Status KLB Hepatitis A Masih Berlaku di SMPN 20 Kota Depok

Reporter:
Editor:

Zacharias Wuragil

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Dua di antara sejumlah siswa SMPN 20 yang masih dirawat di RSUD Kota Depok karena terjangkit virus Hepatitis A, Kamis 28 November 2019. Dinas Kesehatan setempat memberlakukan status KLB parsial di sekolah itu. TEMPO/ADE RIDWAN

    Dua di antara sejumlah siswa SMPN 20 yang masih dirawat di RSUD Kota Depok karena terjangkit virus Hepatitis A, Kamis 28 November 2019. Dinas Kesehatan setempat memberlakukan status KLB parsial di sekolah itu. TEMPO/ADE RIDWAN

    TEMPO.CO, Depok – Sejumlah siswa SMPN 20 Kota Depok masih menjalani perawatan di rumah sakit karena terjangkit virus Hepatitis A. Mereka tersebar di beberapa rumah sakit, termasuk Rumah Sakit Umum Daerah Kota Depok.

    Kepala Bidang Pelayanan Medis RSUD Kota Depok, Lely Nurlely, mengatakan, ada sembilan pasien yang dirawat di rumah sakit itu. “Total yang datang ada 15 orang dari SMPN 20, tapi yang dirawat ada sembilan orang. Sisanya pulang,” kata Lely saat ditemui, Kamis 28 November 2019.

    Lely mengatakan, para pasien itu dirawat di ruang khusus agar memudahkan pemantauan, juga menghindari penularan virus. “Bukan ruang khusus untuk hepatitis, hanya ruang biasa tapi pasiennya dikumpulkan satu ruangan untuk memudahkan pemantauan,” kata Lely.

    Kepala Dinas Kesehatan Kota Depok, Novarita, mengatakan, hingga saat ini status Kejadian Luar Biasa (KLB) parsial di SMPN 20 terkait kasus Hepatitis A masih berlaku. Status dipertahankan hingga kasus dianggap benar-benar teratasi dan seluruh siswa dapat kembali beraktivitas.

    “Sementara ini status KLB parsial berlaku sejak 20 November 2019 hingga 20 Januari 2020,” kata Novarita.

    Menurut Novarita, penyebab merebaknya virus Hepatitis A di sekolah tersebut telah teridentifikasi. Dia menyebut sumber dari makanan dan minuman sekitar sekolah yang diduga tercemar virus menular tersebut. 

    Dari lingkungan sekolah, Kepala SMPN 20 Kota Depok, Komar Suparman, telah memutuskan meliburkan sekolah selama tiga hari. Komar mengakui, keputusan didorong orang tua murid yang khawatir dengan kesehatan para anaknya.

    “Selain itu juga hari senin besok para siswa sudah menghadapi ujian akhir semester agar lebih fokus, jadi selama tiga hari ini siswa belajar di rumah, dan hari jumat masuk ke sekolah hanya untuk ambil kartu ujian,” kata Komar, Selasa lalu.

     

     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Polemik Aturan Ketenagakerjaan Dalam RUU Cipta Kerja

    Perubahan aturan ketenagakerjaan menurut pemerintah harus dilakukan agar mengundang investasi.