Warga Jakarta Bicara Reuni 212 Tahun Ini, Ada yang Tidak Peduli

Reporter:
Editor:

Zacharias Wuragil

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Peserta Reuni 212 berpose dengan latar bendera tauhid pada agenda reuni 212 di Monas, Jakarta Pusat, Ahad, 2 Desember 2018. Acara Reuni Akbar 212 berlangsung di Monas mulai pukul 03.00 WIB hingga 12.00 WIB pada Ahad, 2 Desember 2018. TEMPO/Hilman Fathurrahman W

    Peserta Reuni 212 berpose dengan latar bendera tauhid pada agenda reuni 212 di Monas, Jakarta Pusat, Ahad, 2 Desember 2018. Acara Reuni Akbar 212 berlangsung di Monas mulai pukul 03.00 WIB hingga 12.00 WIB pada Ahad, 2 Desember 2018. TEMPO/Hilman Fathurrahman W

    TEMPO.CO, Jakarta - Tanggapan beragam diberikan atas agenda Reuni 212 pada 2 Desember 2019. Sebagian warga yang ditemui Tempo terang-terangan mendukung agenda yang pernah berkontribusi memberi tekanan terhadap pemidanaan mantan Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok atas tuduhan penistaan agama dua tahun silam itu.

    Warga Kelapa Gading, Jakarta Utara, Siti, 32 tahun, merupakan salah satu yang mendukung. Menurut guru TK di sebuah yayasan pendidikan swasta itu, Reuni 212 mampu menjadi wadah persatuan umat Islam. "Itu kan ukhuwah," ujar Siti saat ditemui di kawasan Monas, Jakarta Pusat, Kamis 28 November 2019.

    Siti bahkan mengaku sangat ingin terlibat dalam agenda yang dinisiasi Persaudaraan Alumni atau PA 212 tersebut. Namun, tuntutan pekerjaan membuatnya hanya bisa menyaksikan melalui layar televisi. Dia mengatakan takjub setiap kali melihat umat Islam berkumpul dalam Reuni 212. "Seperti melihat orang pada wukuf," kata dia.

    Warga lainnya dari Kwitang, Jakarta Pusat, Rizky, 22 tahun, juga mengaku selalu ikut Reuni 212. Sisi positif dari acara itu, menurut dia, sama seperti yang disampaikan oleh Siti yakni menjadi wadah silaturahmi. Walau begitu, anak sulung dari enam bersaudara tersebut punya alasan lain selalu mengikuti Reuni 212.

    "Kalau misalnya gak ikut, sama orang tua pasti ditarik buat ikut. Kalau sudah orang tua ngajak, saya gak bisa menolak," ujar Rizky.

    Sopir ojek online yang ditemui Tempo di sekitar Stasiun Palmerah, Jakarta Barat, itu mengatakan bahwa jalan-jalan di kawasan Kwitang bakal dipadati peserta Reuni 212 nanti. Menurut dia, mayoritas warga di sana selalu mengikuti acara Reuni 212.

    "Orang Kwitang pasti ikut, karena bawa nama besar Habib Ali (Habib Ali bin Abdurrahman Alhabsyi)," ujar dia.

    Penilaian berbeda datang dari Nugy (27), warga yang tinggal di kawasan Kebayoran Lama, Jakarta Selatan. Menurutnya, Reuni 212 tidak penting untuk diselenggarakan kembali. Dia malah khawatir, luka dan 'panasnya' Pemilihan Presiden 2019 lalu yang belum pulih sepenuhnya bakal kembali mencuat dengan diadakannya Reuni 212.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Komentar Yasonna Laoly Soal Harun Masiku: Swear to God, Itu Error

    Yasonna Laoly membantah disebut sengaja menginformasikan bahwa Harun berada di luar negeri saat Wahyu Setiawan ditangkap. Bagaimana kata pejabat lain?