Kemenkes Sebut Ada 262 Kasus Hepatitis A, Sekda Depok: Kami Cek

Reporter:
Editor:

Ninis Chairunnisa

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Dua di antara sejumlah siswa SMPN 20 yang masih dirawat di RSUD Kota Depok karena terjangkit virus Hepatitis A, Kamis 28 November 2019. Dinas Kesehatan setempat memberlakukan status KLB parsial di sekolah itu. TEMPO/ADE RIDWAN

    Dua di antara sejumlah siswa SMPN 20 yang masih dirawat di RSUD Kota Depok karena terjangkit virus Hepatitis A, Kamis 28 November 2019. Dinas Kesehatan setempat memberlakukan status KLB parsial di sekolah itu. TEMPO/ADE RIDWAN

    TEMPO.CO, Depok – Sekretaris Daerah Kota Depok, Hardiono mengaku belum mengetahui adanya penyebaran kasus virus Hepatitis A seperti yang diungkapkan oleh Kementerian Kesehatan RI.

    “Saya enggak tau itu sumbernya dari siapa, kalau saya kan sumber terakhirnya harus mengecek ke dinas kesehatan,” kata Hardiono kepada Tempo, Kamis, 5 Desember 2019.

    Kementerian Kesehatan sebelumnya menyebut total kasus virus Hepatitis A di Depok sejak pertengan November hingga 3 Desember 2019 sebanyak 262 kasus.
    Mengenai data itu, Hardiono menduga baru data suspect. “Ya itukan mungkin jumlah suspect ya, tapi kan nanti dilihat dari hasil labnya positif atau tidak,” kata dia.

    Hardiono pun menampik dikeluarkannya status Kejadian Luar Biasa (KLB) oleh Kementerian Kesehatan terkait kasus Hepatitis A di Kota Depok. “Terlalu jauh (Kemenkes). KLB itu kan yang menetapkan kepala daerah, dan status KLB sudah ditetapkan oleh Wali Kota Depok sejak 20 November hingga 20 Januari 2020,” kata ujarnya.

    Dihubungi terpisah, Kepala Dinas Kesehatan Kota Depok, Novarita belum menanggapi terkait jumlah penyebaran kasus virus Hepatitis A versi Kemenkes itu. “Nanti saya kabari lagi ya, saya masih diluar,” kata dia saat Tempo coba menemui di kantornya.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Sebab dan Pencegahan Kasus Antraks Merebak Kembali di Gunungkidul

    Kasus antraks kembali terjadi di Kabupaten Gunungkidul, DI Yogyakarta. Mengapa antraks kembali menjangkiti sapi ternak di dataran tinggi tersebut?