MRT dan KAI Terintegrasi, Anies Ucapkan Terima Kasih ke Jokowi

Reporter:
Editor:

Ninis Chairunnisa

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Gubernur DKI Anies Baswedan (tengah) dan Wakil Menteri BUMN Kartika Wiryoatmojo (dua dari kiri) saat menyaksikan penandatanganan kerja sama integrasi PT MRT dan PT KAI di Balai Kota Jakarta Pusat, Senin 8 Desember 2019. Tempo/Taufiq Siddiq

    Gubernur DKI Anies Baswedan (tengah) dan Wakil Menteri BUMN Kartika Wiryoatmojo (dua dari kiri) saat menyaksikan penandatanganan kerja sama integrasi PT MRT dan PT KAI di Balai Kota Jakarta Pusat, Senin 8 Desember 2019. Tempo/Taufiq Siddiq

    TEMPO.CO, Jakarta - Gubernur DKI Anies Baswedan memuji track record Presiden Joko Widodo yang pernah mejabat sebagai wali kota dan gubernur. Dengan begitu, kata dia, Jokowi mengerti pentingnya integrasi dalam transportasi.

    Hal tersebut disampaikan Anies saat penandatanganan kerja sama integrasi PT MRT Jakarta dengan PT Kereta Api Indonesia untuk integrasi transportasi.

    "Untungnya kalau presiden pernah jadi gubernur, pernah jadi wali kota. Jadi ketika disampaikan ini tidak perlu penjelasan panjang lebar," kata Anies di Balai Kota DKI, Senin, 9 Desember 2019.

    Anies menyampaikan terimakasih kepada Presiden Jokowi telah menyetujui rencana integrasi PT MRT dan PT KAI. Dia menegaskan bahwa instruksi presiden tersebut akan dieksekusi dengan cepat.

    Menurut Anies, integrasi ini dibutuhkan lantaran jumlah pengguna transportasi darat di Jakarta cukup tinggi. "Pengguna kereta api sekitar 1,2 juta orang, pengguna angkutan darat kita 980 ribu, kalau ini diintegrasikan sudah lebih dari 2 juta pengguna kendaraan umum," ujarnya.

    Anies mengatakan integrasi tersebut akan berbentuk dengan perusahaan join venture dengan kepemilikan 51 persen PT MRT dan 49 persen PT KAI. Aspek integrasi meliputi managemen, rute dan ticketing.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Dijen Imigrasi Ronny Sompie Dicopot Terkait Harun Masiku

    Pencopotan Ronny Sompie dinilai sebagai cuci tangan Yasonna Laoly, yang ikut bertanggung jawab atas kesimpangsiuran informasi kasus Harun.