Ular Masuk Pemukiman, Pemerhati Reptil: Karena Habitat Rusak

Reporter:
Editor:

Febriyan

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Petugas dinas pemadam kebakaran melakukan evakuasi seekor ular King Kobra (Ophiophagus Hannah) saat ditemukan di kawasan permukiman warga Jakasampurna, di Bekasi, Jawa Barat, Kamis 12 Desember 2019. Temuan  King Kobra dengan panjang dua meter tersebut berawal dari laporan warga, selanjutnya ular diserahkan ke komunitas reptile. ANTARA FOTO/Risky Andrianto

    Petugas dinas pemadam kebakaran melakukan evakuasi seekor ular King Kobra (Ophiophagus Hannah) saat ditemukan di kawasan permukiman warga Jakasampurna, di Bekasi, Jawa Barat, Kamis 12 Desember 2019. Temuan King Kobra dengan panjang dua meter tersebut berawal dari laporan warga, selanjutnya ular diserahkan ke komunitas reptile. ANTARA FOTO/Risky Andrianto

    TEMPO.CO, Depok – Maraknya peristiwa penemuan ular di pemukiman warga dalam beberapa pekan terakhir menarik perhatian pemerhari reptil Arbi Krisna. Dia menyatakan bahwa fenomena tersebut bukan sebagai sebuah teror, tetapi petanda bahwa habitat ular saat ini telah rusak karena ulah manusia.

    Arbi menyatakan pada dasarnya ular mencari tempat hidup yang jauh dari pemukiman manusia. Namun karena saat ini habitat ular telah tergusur sehingga ular kesulitan mencari tempat bersembunyi.

    “Dasarnya ular takut orang, nah dulu sebelum banyak pemukiman yang gusur rumah si ular, ular akan sembunyi, tapi sekarang rumah ular bersembunyi habis sama perumahan, jadi mau tidak mau cobra akan menampakan diri karena tempat sembunyi yang hilang,” kata Arbi kepada Tempo, Sabtu 14 Desember 2019.

    Dia juga menyatakan bahwa fenomena kemunculan ular di pemukiman warga terjadi hampir setiap akhir tahun. Hal itu karena musim penghujan pada penghujung tahun merupakan waktu menetasnya telur ular.

    Arbi pun mengaku selalu mendapatkan permintaan untuk melakukan penyelamatan terhadap ular. “Dari tahun 2010 saya melakukan rescue, memang kondisinya sama dari tahun ke tahun,” kata Arbi.

    Arbi mengatakan, perbedaannya di tahun ini lebih ramai karena kehadiran media sosial dan jaringan internet yang memudahkan masyarakat menyebarkan informasi sangat cepat, “Sekarang tiap orang jepret (foto) bisa upload, jadi lebih cepat viral aja,” kata Arbi.

    Petugas Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan Kota Depok, Romi Affandy, mengakui adanya peningkatan kemunculan ular di pemukiman warga sejak bulan lalu. Dia menyatakan pada akhir tahun seperti ini pihaknya bisa mendapatkan laporan soal keberadaan ular hingga 20 kejadian.

    “Karena bulan-bulan ini merupakan waktu untuk mereka (ular) berkembang biak,” kata Romi saat ditemui secara terpisah. “Lebih dari 20 laporan perbulannya masuk ke kami untuk penanganan ular, pada akhir tahun seperti ini.”

    Romi mengimbau masyarakat tidak mengambil langkah terlalu cepat jika dirasa menemukan ular, terlebih ular berbisa, “Lebih baik langsung menghubungi kami,” kata Romi.

    Romi juga mengatakan, masyarakat diminta untuk menutup lubang-lubang saluran yang mengarah langsung ke dalam rumah. Hal itu untuk mencegah ular masuk ke dalam rumah.

    “Juga tambah wewangian menyengat seperti karbol, kamper dan sebagainya,” kata Romi.

    Kemunculan ular terjadi di sejumlah tempat seperti Depok, Jakarta Timur serta Jakarta Selatan dalam beberapa hari belakangan. Jumat kemarin, seorang pedadang di Pasar Kemiri Muka, Depok menjadi korban karena terkena gigitan ular kobra. Beruntung, dia segera dibawa ke rumah sakit untuk mendapatkan pertolongan.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Virus Korona Wuhan Menjangkiti Kapal Pesiar Diamond Princess

    Jumlah orang yang terinfeksi virus korona Wuhan sampai Minggu, 16 Februari 2020 mencapai 71.226 orang. Termasuk di kapal pesiar Diamond Princess.