DKI Minta PLN Pasang Alat Pengukur Kualitas Udara di Cerobongnya

Reporter:
Editor:

Ninis Chairunnisa

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Petugas Polsusi Dinas Lingkungan Hidup DKI Jakarta melakukan sidak di PT Hong Xin Steel, Cakung, Jakarta, Kamis, 8 Agustus 2019. Dinas Lingkungan Hidup DKI Jakarta melakukan inpeksi mendadak ke pabrik peleburan baja PT Hong Xin Steel untuk melakukan pengecekan kembali kondisi cerobong asap milik pabrik tersebut. TEMPO/M Taufan Rengganis

    Petugas Polsusi Dinas Lingkungan Hidup DKI Jakarta melakukan sidak di PT Hong Xin Steel, Cakung, Jakarta, Kamis, 8 Agustus 2019. Dinas Lingkungan Hidup DKI Jakarta melakukan inpeksi mendadak ke pabrik peleburan baja PT Hong Xin Steel untuk melakukan pengecekan kembali kondisi cerobong asap milik pabrik tersebut. TEMPO/M Taufan Rengganis

    TEMPO.CO, Jakarta - Dinas Lingkungan Hidup DKI Jakarta meminta Perusahaan Listrik Negara atau PLN memasang Continuous Emission Monitoring System (CEMS) atau alat pengukur kualitas udara di cerobong asap pembangkit listrik mereka di kawasan Jakarta Utara.

    CEMS merupakan sistem pemantauan lengkap yang dapat mengukur 5 parameter kualitas udara berupa CO, CO2, SO2, NOx, O2 dan partikular secara terus-menerus.

    Kepala Dinas Lingkungan Hidup DKI, Andono Warih, mengatakan telah meminta delapan cerobong asap perusahaan plat merah itu untuk memasang CEMS. Namun, dari delapan baru empat cerobong yang dipasang alat pengukur kualitas udara tersebut.

    "Kami sudah minta agar semua cerobongnya dipasang CEMS," kata Andono di Balai Kota DKI, Rabu, 18 Desember 2019.

    Andono menuturkan permintaan pemasangan CEMS di cerobong pembangkit listrik PLN dilakukan setelah evaluasi dan pengawasan cerobong industri. Hasil monitoring tersebut akhirnya ditemukan ada delapan cerobong PLN belum mempunyai alat ukur udara.

    "Dari situ maka kami eksekusi untuk menegakkan aturan tersebut. Perusahaan tersebut tergolong wajib memasang CEMS. Jumlahnya delapan cerobong," kata Andono.

    Alat itu, kata Andono, nantinya bakal membantu pemerintah daerah untuk memantau emisi buang pembakaran pembangkit listrik. Tujuannya agar jangan sampai gas buang dari cerobong milik pemerintah perusahaan Badan Usaha Milik Negara itu mencemari lingkungan.

    "Pencemaran terjadi jika sudah melebihi baku mutu. Baku mutu itu bisa diketahui tidak perlu diukur jika CEMS sudah ada," kata Andono. "Dengan adanya CEMs kami bisa kontinu untuk memonitornya."

    Andono menuturkan emisi industri yang paling banyak mempengaruhi kualitas lingkungan berada di kawasan Jakarta Utara, Jakarta Barat dan Jakarta Timur bagian Utara. Namun, ia tidak merinci jumlah perusahaan yang paling berkontribusi terhadap pencemaran udara di kawasan tersebut.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Virus Korona COVID-19 Hantam Ekonomi Indonesia pada Maret 2020

    Dampak Virus Korona terhadap perekonomian Indonesia dipengaruhi kondisi global yang makin lesu. Dunia dihantam coronavirus sejak Desember 2019.