Pengamat: Revitalisasi Trotoar Harus Dibarengi Perbaikan Drainase

Reporter:
Editor:

Ninis Chairunnisa

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Banjir 10-20 cm di depan Kampus Untar Jl. S. Parman Jakbar & berimbas lalin tersendat. Twitter.com

    Banjir 10-20 cm di depan Kampus Untar Jl. S. Parman Jakbar & berimbas lalin tersendat. Twitter.com

    TEMPO.CO, Jakarta - Pengamat tata kota dari Universitas Trisakti, Nirwono Joga, mengingatkan proyek revitalisasi trotoar pemerintah DKI Jakarta harus berbarengan dengan rehabilitasi saluran air kota. Sebab, kata dia, sistem drainase kota yang buruk bakal menimbulkan banjir di Jakarta.

    "Kegiatan revitalisasi trotoar yang sedang gencar dilakukan Pemprov DKI seharusnya diikuti dengan rehabilitasi saluran air kota dan sekaligus penataan jaringan utilitas secara terpadu," kata Nirwono saat dihubungi Tempo, Kamis, 19 Desember 2019.

    Pemerintah DKI tengah merampungkan proyek revitalisasi trotoar di sejumlah titik. Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan ingin memperlebar trotoar sehingga ada ruang untuk pejalan kaki. Revitalisasi berlangsung di kawasan, seperti Kemang, Kuningan, dan Cikini.

    Nirwono menilai pemerintahan DKI saat ini tidak atau belum siap mengantisipasi banjir. Buktinya, genangan air muncul di sejumlah ruas jalan protokol Jakarta ketika hujan deras pada Selasa, 17 Desember lalu.

    "Terlepas dari derasnya hujan, hal ini menunjukkan bahwa sistem drainase kota kita masih buruk, tidak berfungsi optimal, tidak mampu menampung luapan air hujan," kata Nirwono.

    Nirwono mengatakan hanya sekitar 33 persen sistem drainase Jakarta yang saat ini berfungsi baik. Selain sistem drainase yang buruk, saluran air Jakarta tak cukup lebar menampung derasnya air.

    Ia pun menyarankan agar pemerintah DKI memperlebar diameter saluran air yang kini 1,5 meter menjadi 3 menter. Dengan begitu, saluran dapat menampung kapasitas air saat hujan lebat.

    Tak hanya itu, Nirwono membeberkan, masih banyak permasalahan lain ihwal saluran tersebut, seperti tersumbat lumpur, sampah, limbah, jaringan utilitas yang tumpang tindih, dan antar saluran air tidak terkoneksi dengan baik. "Itu sudah jelas sistem drainasenya yang tidak berfungsi optimal, baik dari diameter lubang saluran air yang perlu diperbesar maupun lubang air yang masuk ke setiap saluran air," ujarnya.

    Badan Penanggulangan Bencana Daerah DKI Jakarta mencatat 27 lokasi banjir imbas hujan selama sekitar dua jam itu, dengan ketinggian 30 sampai 50 sentimeter. Pemerintah DKI pun merespons banjir tersebut dengan menggelar kerja bakti besar bersama seluruh satuan kerja perangkat daerah terkait yang akan digelar pada Ahad, 22 Desember 2019.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    GERD Memang Tak Membunuhmu tapi Dampaknya Bikin Sengsara

    Walau tak mematikan, Gastroesophageal reflux disease alias GERD menyebabkan berbagai kesengsaraan.