Begini Pertahanan MRT Bawah Tanah Hadapi Banjir Besar Jakarta

Reporter:
Editor:

Zacharias Wuragil

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Banjir 20-30 cm di KM 5 Tol Kuningan (arah ke Cawang) & berimbas lalin tersendat. Twitter.com

    Banjir 20-30 cm di KM 5 Tol Kuningan (arah ke Cawang) & berimbas lalin tersendat. Twitter.com

    TEMPO.CO, Jakarta - PT MRT Jakarta mengaku telah mendesain setiap stasiun bawah tanahnya memperhitungkan mitigasi bencana banjir besar di ibu kota. Pernyataan ini disampaikan setelah banjir kembali merendam banyak wilayah termasuk sejumlah ruas jalan di jantung Jakarta pada Selasa 17 Desember 2019.

    Direktur Konstruksi PT MRT Jakarta, Silvia Halim, mengungkap kalau desain itu dibuat mengikuti kajian atas ketinggian air banjir Jakarta selama 200 tahun. Wujudnya, antara lain, meninggikan setiap pintu masuk stasiun MRT bawah tanah hingga 1,5 meter.

    "Berdasarkan sejarah banjir selama 200 tahun di ibu kota, ketinggian banjir maksimal 1,3 meter," kata Silvia di kantornya, Kamis 19 Desember 2019.

    Peninggian pintu masuk hingga 1,5 meter itu masih ditambah dengan flood protection panel atau pintu kedap air. Ini, kata Silvia, untuk mengantisipasi jika banjir lebih dari 1,3 meter.

    Saat ini, pintu kedap air tersebut baru terpasang di Stasiun Bundaran HI dan Stasiun Dukuh Atas--dua stasiun bawah tanah MRT Jakarta yang duduk di perut bumi terdalam. "Stasiun Bundaran HI dan Dukuh Atas bahkan berada lebih rendah daripada dasar Kali Krukut dan Kanal Banjir Barat," ujarnya.

    Itu sebabnya, Silvia menambahkan, dilakukan pula pemasangan sensor muka air (water level sensor) di Kali Krukut dan Kanal Banjir Barat. Luapan dua sungai ini paling diwaspadai sehingga pemantauannya pun dilakukan secara kontinyu. "Maka itu kami pasang sensor."

    Penumpang kereta moda raya terpadu (MRT), berjalan kaki setelah keluar dari gerbong kereta yang mati saat pemadaman listrik di Jakarta, Ahad, siang 4 Agustus 2019. Seluruh penumpang yang sempat terjebak berhasil dievakuasi. MRT Jakarta

    Ke depan, Silvia menjelaskan, MRT Jakarta menambahkan pintu kedap air di stasiun bawah tanah lainnya, yakni Setia Budi, Bendungan Hilir, Istora, dan Senayan. MRT Jakarta juga mengantisipasi jika air banjir sampai masuk ke stasiun bawah tanah dengan telah membuat gorong-gorong atau drainase. 

    Silvia memperkenalkan sistem pertahanan dari banjir berupa drainase itu sebagai dua sumpit pada area stasiun. Ukuran sumpit 4 x 4 meter berada di kedalaman dua meter. Masing-masing sumpit dilengkapi dua pompa air berkapasitas 25 liter per detik.

    "Kemarin air meluap di sekitar Stasiun Istora dan Senayan karena kondisi drainase yang tersumbat. Jadi faktor ini juga harus diperhatikan," ucap Silvia menambahkan tentang banjir Selasa lalu.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Cesium 137 dan Bahaya Radiasi Pada Tubuh Manusia

    Cesium 137 adalah bahan radioaktif yang digunakan berbagai industri dan pengobatan. Bila salah dikelola, bahan itu akan menimbulkan sejumlah penyakit.