Evakuasi Dokumen Terkena Banjir, Kepala BPN Bekasi Dipatok Ular

Reporter:
Editor:

Febriyan

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Seorang warga menggunakan kano turut membantu mengevakuasi dikala banjir di Taman Villa Kartini, Bekasi, Jawa Barat, Rabu 2 Januari 2020. TEMPO/Ahmad Tri Hawaari

    Seorang warga menggunakan kano turut membantu mengevakuasi dikala banjir di Taman Villa Kartini, Bekasi, Jawa Barat, Rabu 2 Januari 2020. TEMPO/Ahmad Tri Hawaari

    TEMPO.CO, Bekasi - Kepala Kantor Pertanahan (Kakantah) BPN Kota Bekasi, Deni Ahmad Hidayat dipatok ular ketika membersihkan gudang arsip yang terkena banjir. Gudang Arsip BPN Kota Bekasi terendam banjir karena tembok kantor tersebut jebol.

    "Pak Deni kena patok ular saat sedang beres-beres waktu Maghrib kemarin, makanya sekarang enggak bisa hadir," kata Kepala Biro Umum dan Layanan Pengadaan pada Kementerian ATR/BPN RI, Nurhadi Putra di Kantor BPN Kota Bekasi, Jumat, 3 Januri 2020.

    Nurhadi Putra hari ini bersama dengan perwakilan Arsip Nasonal RI meninjau gudang kantor BPN yang sempat terendam banjir pada Rabu hingga Kamis kemarin. Akibatnya, banyak dokumen pertanahan di instansi pemerintah ini basah, sehingga butuh direstorasi sebelum rusak.

    "Banjir karena jebolnya tembok di sebelah kanan kantor BPN Kota Bekasi," katanya.

    Ia tak menjelaskan detail kondisi kesehatan Kepala Kantor BPN Kota Bekasi sekarang maupun jenis ular yang mematok. Tapi, kata dia, Deni sekarang sudah mendapatkan perawatan medis.

    Sementara dokumen yang basah akibat banjir disebut cukup banyak. Nurhadi belum dapat menginventarisasi jumlah dokumen tersebut. Tapi, pihaknya memastikan dokumen basah akan direstorasi oleh Arsip Nasional RI (ANRI), terutama arsip hidup seperti program PTSL.

    "Tapi sebagian besar dokumen yang tidak aktif, seperti Roya," kata dia.

    Soal lokasi gudang arsip yang berada di area bawah tanah gedung, menurut Nurhadi, hanya bersifat sementara. BPN Kota Bekasi saat ini sedang membangung gedung arsip dua lantai di bagian sisi kiri kantor.

    "Karena belum selesai, disimpan di bawah. Kami tidak tahu juga kalau ada bencana seperti ini, kita harus hadapi dan cari solusinya," kata Nurhadi.

    Berdasarkan pengamatan Tempo, dokumen terdampak banjir yang telah dievukasi diletakkan di lantai dasar atau di halaman di atas besmen. Tampak dokumen tumpukan itu dijejer hingga memanjang sekitar 10 meter.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Curah Hujan Ekstrem dan Sungai Meluap, Jakarta Banjir Lagi

    Menurut BPBD DKI Jakarta, curah hujan ekstrem kembali membuat Jakarta banjir pada 23 Februari 2020.