Terungkap, BPBD Kota Bekasi Cuma Ada 6 Perahu Karet Siaga Banjir

Reporter:
Editor:

Dwi Arjanto

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Sejumlah Polri RI melintasi banjir dengan perahu karet saat mengevakuasi korban banjir di Taman Villa Kartini, Bekasi, Jawa Barat, Rabu 2 Januari 2020. Sejumlah titik diturunkan oleh Kepolisian Republik Indonesia guna membantu pengevakuasian warga korban banjir. TEMPO/Ahmad Tri Hawaari

    Sejumlah Polri RI melintasi banjir dengan perahu karet saat mengevakuasi korban banjir di Taman Villa Kartini, Bekasi, Jawa Barat, Rabu 2 Januari 2020. Sejumlah titik diturunkan oleh Kepolisian Republik Indonesia guna membantu pengevakuasian warga korban banjir. TEMPO/Ahmad Tri Hawaari

    TEMPO.CO, Bekasi -Banjir parah menyergap Bekasi secara serentak di 93 titik di wilayah itu sejak Rabu pagi, 1 Januari 2020, tak lama setelah malam pergantian tahun.

    Banjir baru mulai surut pada Kamis siang bahkan ada yang sampai Jumat dini hari, 3 Januari 2020.

    Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah Kota Bekasi, Haryono mengatakan, permintaan evakuasi cukup tinggi pada hari pertama banjir. Bahkan, ia menerima panggilan telepon meminta evakusi mencapai 200 kali. "Karena serentak, kemampuan untuk perahu kita itu terbatas," katanya, Jumat, 3 Januari 2020.

    BPBD Kota Bekasi sendiri, menurut dia, hanya memiliki enam perahu karet.

    Tapi, secara keseluruhan pemerintah daerah memiliki 23 perahu karet yang tersebar di sejumlah instansi pemerintah seperti Dinas Pemadam Kebakaran, Dinas Lingkungan Hidup, maupun Satuan Polisi Pamong Praja. "Padahal yang kena dampaknya itu sampai ribuan," kata dia.

    Sejumlah korban banjir menganggap pemerintah daerah tak siap menghadapi banjir parah.

    Hal ini dirasakan oleh seorang warga di Komplek Vila Nusa Indah, Jatiasih, meskipun di depan perumahan itu ada gudang logistik milik Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB).

    "Semua nomor telepon yang dishare di media sosial tidak ada yang merespon," ucap seorang korban banjir di sana. Banjir di sana mulai tinggi sejak Rabu pukul 12.00, hingga malam pukul 23.00 belum ada tim menjemput atau mengantarkan logistik makanan. Adapun tim evakuasi di lokasi ini lebih dominan dari unsur TNI.

    BPBD Kota Bekasi mencatat dari 93 titik banjir ada 366.274 orang terdampak. Paling parah dan banyak berada di Perumahan Pondok Gede Permai (PGP), Jatiasih.

    Pemerintah daerah mengidentifikasi penyebab banjir ada dua. Pertama karena curah hujan tinggi, dan luapan Kali Bekasi akibat debitnya meningkat setelah mendapatkan kiriman air melalui Kali Cileungsi dan Kali Cikeas.

    Tempo mengamati banjir lebih dulu disebabkan oleh curah hujan, rumah-rumah penduduk yang berlokasi di dataran rendah terendam. Titiknya hampir menyebar di semua kecamatan.

    Banjir karena curah hujan tinggi mulai terjadi pada Rabu dini hari tak lama setelah malam pergantian tahun.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Curah Hujan Ekstrem dan Sungai Meluap, Jakarta Banjir Lagi

    Menurut BPBD DKI Jakarta, curah hujan ekstrem kembali membuat Jakarta banjir pada 23 Februari 2020.