Banjir Jakarta, Begini Beda Normalisasi Sungai dan Naturalisasi

Reporter:
Editor:

Dwi Arjanto

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Banjir hari keempat di kawasan Teluk Gong, Kelurahan Pejagalan, Penjaringan, Jakarta Utara, Sabtu, 4 Januari 2020. TEMPO/Lani Diana

    Banjir hari keempat di kawasan Teluk Gong, Kelurahan Pejagalan, Penjaringan, Jakarta Utara, Sabtu, 4 Januari 2020. TEMPO/Lani Diana

    TEMPO.CO, Jakarta -Pemerintah pusat dan pemerintah DKI Jakarta seolah-olah beradu jurus untuk mengatasi ancaman banjir Jakarta yang tiap tahun menyatroni Ibu Kota.

    Banjir Jakarta skala besar atau kecil, yakni dengan normalisasi sungai versus naturalisasi sungai.

    Kebijakan dan proyek yang sebenarnya bertujuan sama, menangkal dan mengatasi banjir Jakarta itu lebih sering muncul sebagai polemik dan pertarungan bernuansa politik. Berikut perbandingannya.

    Pemerintah Pusat

    1. Normalisasi Sungai Ciliwung
    Lokasi:
    - T.B. Simatupang-Condet
    Panjang: 7,55 kilometer
    Realisasi: 3,47 kilometer di Pejaten Timur, Tanjung Barat, Gedong.

    - Condet-Kalibata
    Panjang: 7,55 kilometer
    Realisasi: 3,1 kilometer di Rawajati, Pejaten Timur, Cililitan, Balekambang.

    - Kalibata-Kampung Melayu
    Panjang: 8,82 kilometer
    Realisasi: 4,67 kilometer di Kebon Baru, Bidaracina, Cikoko, Pengadegan, Cawang.

    - Kampung Melayu-Pintu Air Manggarai
    Panjang: 9,74 kilometer
    Realisasi: 4,95 kilometer di Bukit Duri, Kampung Melayu.

    Teknik:
    - Pengembalian lebar sungai menjadi 35-50 meter.
    - Menguatkan tubir atau badan sungai yang berfungsi juga sebagai tanggul.
    - Membuat sempadan sungai menjadi jalan inspeksi sekitar 6-8 meter.
    - Meningkatkan daya tampung aliran air menjadi 570 meter kubik per detik.
    - Penataan kawasan sekitar sungai.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Virus Korona COVID-19 Hantam Ekonomi Indonesia pada Maret 2020

    Dampak Virus Korona terhadap perekonomian Indonesia dipengaruhi kondisi global yang makin lesu. Dunia dihantam coronavirus sejak Desember 2019.