Soal Sodetan Ciliwung, Anies Baswedan: Tahap Appraisal

Reporter:
Editor:

Juli Hantoro

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Warga yang rumahnya terdampak pengerjaan proyek sodetan Ciliwung-Kanal Banjir Timur mengeluarkan barang-barangnya dari rumah di daerah Bidara Cina, Jakarta, 11 Oktober 2015. Warga yang terdampak proyek sodetan Ciliwung memindahkan barang-barangnya ke Rumah Susun Cipinang Besar Selatan yang telah disediakan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta. ANTARA/Hafidz Mubarak A

    Warga yang rumahnya terdampak pengerjaan proyek sodetan Ciliwung-Kanal Banjir Timur mengeluarkan barang-barangnya dari rumah di daerah Bidara Cina, Jakarta, 11 Oktober 2015. Warga yang terdampak proyek sodetan Ciliwung memindahkan barang-barangnya ke Rumah Susun Cipinang Besar Selatan yang telah disediakan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta. ANTARA/Hafidz Mubarak A

    TEMPO.CO, Jakarta - Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan mengatakan, pembebasan lahan untuk proyek sodetan Sungai Ciliwung kini sudah masuk dalam tahap penaksiran nilai propertiatau appraisal.

    "Jadi tentang sodetan Ciliwung itu pada pertengahan Desember kemarin pembicaraan dengan warga sudah selesai. Dan sekarang kami mulai pada fase appraisal dan baru kemudian transaksi untuk tanah," kata Anies Baswedan saat ditemui di halaman Istana Negara, Jakarta pada Rabu, 8 Januari 2019.

    Anies menilai transaksi pembayaran ganti lahan atau bangunan dapat selesai hingga akhir Januari 2020.

    Menurut dia, jika transaksi pembayaran ganti atas lahan yang digunakan untuk kawasan sodetan telah selesai, maka Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) dapat melakukan pengerjaan pembangunan, termasuk pintu air atau "water inlet".

    Pemerintah Provinsi DKI Jakarta hanya bertindak sebagai fasilitator antara Kementerian PUPR dengan masyarakat di kawasan Bidara Cina, Jakarta Timur.

    Dia menjelaskan, hal yang memperlama proses pembangunan sodetan yakni adanya kasus hukum atas penggantian lahan atau bangunan.

    "Cuma kemarin-kemarin ada gugatan dan saya putuskan untuk tidak melakukan banding, supaya bisa dieksekusi cepat. Lalu saya meminta Kementerian PUPR untuk juga mencabut bandingnya," kata mantan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan itu.

    Sementara untuk upaya perbaikan aliran Sungai Ciliwung dan sungai-sungai lain di Jakarta, yakni normalisasi ataupun naturalisasi, Anies menilai hal itu merupakan upaya jangka panjang.

    Anies mengatakan pelebaran sungai hanyalah pembangunan di kawasan hilir.

    "Jadi sekarang jangka pendek penanganan kepada korban dan tadi pagi saya dengan Menteri PUPR bahas ini juga. Jadi memang pada akhirnya kita harus duduk sama-sama supaya komprehensif dari hulu sampai hilir," kata Anies.

    Sebelumnya, Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat Basuki Hadimuljono menjelaskan, sodetan Sungai Ciliwung dapat signifikan mengurangi debit aliran air sehingga membantu mengurangi banjir.

    Jika pembebasan lahan sudah dilakukan, Basuki menilai pembangunan lanjutan sodetan memakan waktu 6 bulan.

    Sodetan Ciliwung dapat mengalirkan air sebanyak 60 meter kubik per detik ke Kanal Banjir Timur (BKT) untuk diteruskan langsung menuju laut di utara Jakarta.

    Untuk debit air banjir Sungai Ciliwung mencapai 570 meter kubik per detik. Jika sodetan itu terwujud, maka debit air banjir dapat terkurangi menjadi 510 meter kubik.

    Dari rencana 1,2 kilometer sodetan yang di bawah tanah antara kawasan Bidara Cina, Otista, hingga ke Kali Cipinang, menuju KBT, baru terbangun 600 meter.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Polemik Aturan Ketenagakerjaan Dalam RUU Cipta Kerja

    Perubahan aturan ketenagakerjaan menurut pemerintah harus dilakukan agar mengundang investasi.