Gubernur Banten Bantah Tak Maksimal Soal Banjir Bandang di Lebak

Reporter:
Editor:

Dwi Arjanto

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Warga keluar dari Kampung Muhara yang terisolir akibat jembatan putus, di Kecamatan Lebak Gedong, di Lebak, Banten, Minggu, 5 Januari 2020. Sebagian warga masih enggan diungsikan ke tempat yang  lebih aman dengan alasan ingin menjaga harta mereka padahal petugas kesulitan mengirim bantuan karena jembatan penghubung ke lokasi itu putus akibat longsor. ANTARA

    Warga keluar dari Kampung Muhara yang terisolir akibat jembatan putus, di Kecamatan Lebak Gedong, di Lebak, Banten, Minggu, 5 Januari 2020. Sebagian warga masih enggan diungsikan ke tempat yang lebih aman dengan alasan ingin menjaga harta mereka padahal petugas kesulitan mengirim bantuan karena jembatan penghubung ke lokasi itu putus akibat longsor. ANTARA

    TEMPO.CO, Tangerang -Gubernur Banten Wahidin Halim keberatan dengan pernyataan ketua DPRD Banten Andra Soni yang mengatakan bahwa Pemprov Banten belum maksimal dalam menangani bencana alam banjir bandang dan longsor yang terjadi di Kabupaten Lebak.

    Terlebih, Andra menyebut Pemprov gagap terhadap banjir bandang lantaran tidak ada crisis center atau pusat data untuk mengetahui jumlah korban jiwa maupun kerugian dampak bencana yang akurat sejak hari pertama bencana terjadi.

    "Jangan bilang gagap, gagap. Kami sejak hari pertama sudah siap siaga, dan hadir dengan para korban,” ujar Wahidin dalam keterangan tertulis yang diterima Tempo, Jum'at 10 Januari 2019.

    Menurut Wahidin, pendataan dan verifikasi data membutuhkan waktu agar data yang dihasilkan valid dan akuntabel atau dapat dipertanggungjawabkan.

    Wahidin menjelaskan proses pendataan jumlah korban dan total kerugian yang dialami akibat banjir tidak dapat dilakukan dalam waktu satu hari. Karena, jumlah korban dan kerugian terus berubah sehingga perlu dilakukan verifikasi secara terus menerus.

    Anggota Polairud Polda Banten menyalurkan bantuan ke desa terisolir menggunakan helikopter di Kampung Muhara, Lebak Gedong, Lebak, Banten, Senin, 6 Januari 2020. Sampai hari keenam pasca banjir bandang dan longsor sejumlah akses jalan dan jembatan di lokasi itu masih belum dapat dilalui sehingga bantuan logistik disalurkan lewat udara. ANTARA

    "Korban dan harta benda kan ada yang terbawa arus, atau tertimbun tanah dan benda-benda lain, sehingga membutuhkan proses pencarian dan evakuasi untuk kemudian diverifikasi identitasnya. Supaya datanya valid dan dapat dipertanggungjawabkan,"tuturnya.

    Sejak hari pertama kejadian, kata Wahidin, pihaknya sudah terjun langsung ke lapangan dan instruksi OPD membuat posko posko termasuk di rumahnya sendiri dijadikan Posko Dapur Umum, Kesehatan, Logistik, air bersih dan lokasi tempat evakuasi kendaraan warga perumahan Pinang Griya dan Ciledug Indah.

    "Bukan untuk pencitraan rumah saya dijadikan Posko. Tapi itu kebutuhan segera. Dan sudah saya lakukan sejak dulu di saat daerah itu terkena banjir," demikian Wahidin soal penangangan banjir bandang tersebut.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Virus Korona Wuhan Menjangkiti Kapal Pesiar Diamond Princess

    Jumlah orang yang terinfeksi virus korona Wuhan sampai Minggu, 16 Februari 2020 mencapai 71.226 orang. Termasuk di kapal pesiar Diamond Princess.