Banjir, Aktivis Lingkungan Singgung Bahaya Residu ITF Sunter

Reporter:
Editor:

Dwi Arjanto

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Petugas memasang spanduk Groundbreaking Ceremony Intermediate Treatment Facility (ITF) Sunter di Jakarta Utara, Kamis, 20 Desember 2018. TEMPO/M Julnis Firmansyah

    Petugas memasang spanduk Groundbreaking Ceremony Intermediate Treatment Facility (ITF) Sunter di Jakarta Utara, Kamis, 20 Desember 2018. TEMPO/M Julnis Firmansyah

    TEMPO.CO, Jakarta -Aktivis lingkungan yang tergabung dalam Aliansi Zero Waste Indonesia (AZWI) mengingatkan bahayanya residu hasil pembakaran termal atau Pembangkit Listrik Tenaga Sampah (PLTSa), terkait banjir yang masih rutin menyambangi Jakarta

    Direktur Eksekutif Walhi Nasional Nur Hidayati mengatakan, residu pembakaran yang tak dikelola berisiko dibuang ke tempat pembuangan akhir (TPA) lalu menjadi limbah berbahaya (B3). Belum lagi ada resiko banjir.

    "Ini limbah B3 yang pengelolaannya di Indonesia saat ini masih menjadi masalah besar. Dengan menggunakan insinerator, pemerintah sedang menyiapkan bom waktu untuk generasi akan datang," kata Nur saat konferensi pers di kantornya, Jalan Tegal Parang Utara, Mampang Prapatan, Jakarta Selatan, Jumat, 10 Januari 2020.

    AZWI menuntut pemerintah pusat menetapkan abu atau partikel polutan hasil insinerator yang terbang (fly ash) dan jatuh di tanah (bottom ash) sebagai limbah B3. Tak hanya itu, AZWI menuntut limbah B3 hasil pembakaran termal tidak boleh dibuang ke TPA kota.

    Insinerator merupakan teknologi pembakaran termal. Konsep pembakaran inilah yang diadopsi dalam proyek pengolahan sampah terpadu alias Intermediate Treatment Facility (ITF) Sunter, Jakarta Utara.

    Peneliti Indonesian Center for Environmental Law (ICEL) Fajri Fadillah menyinggung iklim di Indonesia yang kini sedang tak menentu. Menurut dia, banjir awal tahun ini banyak melanda daerah yang dulu tak pernah diterjang air bah.

    Fajri kemudian menduga pemerintah DKI tak memperkirakan resiko banjir di kawasan Sunter, lokasi ITF berdiri. Padahal, residu insinerator ITF Sunter berpotensi terbawa arus apabila datang banjir.

    Data Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) DKI Jakarta pada 2015 menunjukkan titik di Jakarta Utara menjadi wilayah terbanyak rawan banjir. "Jika semakin buruk kondisi banjir ada resiko limbah B3 bisa terbawa banjir," ucap Fajri.

    ITF disebut mampu mengolah 2.200 ton sampah per hari. Jenis teknologi yang diterapkan adalah waste to energy dengan kapasitas menghasilkan listrik mencapai 35 MWh dan mampu mereduksi 80-90 persen dari bobot sampah yang masuk.

    Kepala Dinas Lingkungan Hidup DKI Andono Warih sebelumnya Andono menjamin emisi gas buang ITF Sunter tidak berbahaya karena akan dilengkapi teknologi Flue Gas Treatment (FGT) yang berfungsi memfilter partikel berbahaya dan menekan gas buang dari hasil pembakaran sampah.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Polemik Aturan Ketenagakerjaan Dalam RUU Cipta Kerja

    Perubahan aturan ketenagakerjaan menurut pemerintah harus dilakukan agar mengundang investasi.