Baca Eksepsi, Kivlan Zen: Kejamnya Ibu Tiri Lebih Kejam Ibu Kota

Reporter:
Editor:

Juli Hantoro

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ekspresi mantan Kepala Staf Komando Cadangan Strategis Angkatan Darat Mayjen (Purn) Kivlan Zen saat memberikan kesaksian dalam sidang kasus kepemilikan senjata api ilegal dengan terdakwa Habil Marati di Pengadilan Negeri Jakarta Pusat, Selasa, 7 Januari 2020. Saat memberikan kesaksiannya, Kivlan sempat meminta majelis hakim untuk membebaskan Habil Marati dari segala tuntutan. TEMPO/Imam Sukamto

    Ekspresi mantan Kepala Staf Komando Cadangan Strategis Angkatan Darat Mayjen (Purn) Kivlan Zen saat memberikan kesaksian dalam sidang kasus kepemilikan senjata api ilegal dengan terdakwa Habil Marati di Pengadilan Negeri Jakarta Pusat, Selasa, 7 Januari 2020. Saat memberikan kesaksiannya, Kivlan sempat meminta majelis hakim untuk membebaskan Habil Marati dari segala tuntutan. TEMPO/Imam Sukamto

    TEMPO.CO, Jakarta - Terdakwa kepemilikan senjata api ilegal, Kivlan Zen, menyatakan keberatan terhadap isi dakwaan jaksa penuntut umum (JPU). Setelah tudingan bertubi-tubi terhadapnya, Kivlan menyebut sebagai anak kelahiran Kota Langsa, Aceh, telah merasakan kejamnya Jakarta.

    "Sebagai putra Minang kelahiran Aceh sekarang ini telah memaknai istilah masyarakat yaitu kejamnya ibu tiri ternyata lebih kejam Ibu Kota," kata Kivlan saat membacakan eksepsi di hadapan majelis hakim Pengadilan Negeri Jakarta Pusat, Selasa, 14 Januari 2020.

    Dia melanjutkan kekejaman itu tampak dari tuduhan yang telah beredar di masyarakat bahwa dirinya dalang atau terlibat sebagai pelaku makar demo 21-22 Mei 2019. Kemudian polisi mengumumkan, dirinya menargetkan rencana pembunuhan terhadap empat pejabat dan satu pimpinan lembaga survei.

    Kelima target itu antara lain mantan Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan Wiranto; Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman Luhut Binsar Panjaitan; Kepala Badan Intelijen Negara Budi Gunawan; Staf Khusus Presiden Bidang Intelijen dan Keamanan Gories Mere; dan Direktur Eksekutif Charta Politika Indonesia Yunarto Wijaya.

    "Di usia 73 tahun dalam keadaan sakit, maka saya juga menyatakan keberatan terhadap isi dakwaan a quo dengan menyatakan penuntut umum dalam menguraikan tidak cermat, tidak jelas, dan tidak lengkap," ucap Kivlan.

    Sebelumnya, jaksa mendakwa Kivlan Zen atas kepemilikan senjata api ilegal. Dia didakwa melanggar Pasal 1 ayat 1 Undang-Undang Darurat Republik Indonesia Nomor 12 Tahun 1951 juncto Pasal 55 ayat 1 ke-1 atau juncto 56 ayat 1 Kitab Undang-Undang Hukum Pidana.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Peranan Penting Orang Tua dalam Kegiatan Belajar dari Rumah

    Orang tua mempunyai peranan yang besar saat dilaksanakannya kegiatan belajar dari rumah.