Polda Metro: AKBP Andi Sinjaya Tak Melakukan Pemerasan

Reporter:
Editor:

Ali Akhmad Noor Hidayat

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Yusri Yunus memberikan keterangan dalam pengungkapan jaringan peredaran ganja Jawa dan Sumatera di Rumah Sakit Polri Kramat Jati, Jakarta Timur, Selasa, 24 Desember 2019. TEMPO/Ahmad Tri Hawaari

    Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Yusri Yunus memberikan keterangan dalam pengungkapan jaringan peredaran ganja Jawa dan Sumatera di Rumah Sakit Polri Kramat Jati, Jakarta Timur, Selasa, 24 Desember 2019. TEMPO/Ahmad Tri Hawaari

    TEMPO.CO, Jakarta - Kepala Bidang Humas Polda Metro Jaya Komisaris Besar Yusri Yunus mengungkapkan hasil pemeriksaan terhadap pelapor kasus pemerasan, Budianto. Nama Budianto sempat dikait-kaitkan dengan kasus mantan Kepolisian Satuan Reserse Kriminal Polres Metro Jakarta Selatan, Ajun Komisaris Besar Andi Sinjaya.

    "Kesimpulan dari Propam memang tidak terbukti apa yang selama ini diisukan," kata Yusri saat dikonfirmasi, Rabu petang, 15 Januari 2020.

    Budianto menghadap Propam Polda Metro Jaya untuk menjalani pemeriksaan pada Rabu siang, 15 Januari 2020. Dia mengaku ditanyai penyidik terkait isu pemerasan yang dihadapinya.

    "Ada 16 pernyataan, terkait dengan berita yang viral di sejumlah media online," kata Budianto.

    Menurut Budianto, pemerasan itu memang terjadi. Namun pelakunya bukan Andi melainkan pengacara yang dikenalnya bernama Alex. Pelaku disebut membawa-bawa nama Kasat Reskrim Polres Jakarta Selatan untuk membantu mengurus perkara sengketa lahan yang dihadapi oleh Budianto.

    "Dia bilang, harus siapin Rp 1 miliar di depan Pak Budi, kalau enggak tersangka enggak bisa ditahan," ujar Budianto menirukan ucapan Alex.

    Selanjutnya pada 10 Januari 2020, Budianto mengaku mendapat telepon dari penyidik. Menurut dia, penyidik menyampaikan bahwa Kasat Reskrim Polres Jakarta Selatan ingin bertemu. Budianto mengaku meminta pertemuan dilakukan pada pukul 16.00 di kantor Polres Jakarta Selatan. Namun, Andi Sinjaya tidak hadir.

    "Saya murka di situ. Kalau bapak lu (Andi) gak hargai saya, saya pun gak hargai dia," ujar Budianto menirukan ucapannya kepada penyidik Polres Jakarta Selatan.

    Dengan diselimuti emosi karena merasa tak dihargai Andi Sinjaya, ujar Budianto, dia menghubungi Ketua Indonesia Police Watch (IPW), Neta S Pane keesokan harinya, Sabtu, 11 Januari 2020. Di hari itu juga, IPW mengeluarkan rilis media yang menyebut adanya oknum yang memeras Budianto Rp 1 Miliar.

    Pada 8 Januari 2020, AKBP Andi Sinjaya dimutasi dan digantikan oleh Muhammad Irwan Susanto. Mutasi itu tertuang dalam Surat Telegram Kapolda Metro Jaya dengan nomor ST/13/I/KEP/2020. Mutasi terhadap Andi Sinjaya kemudian dikait-kaitakan dengan kasus pemerasan yang dialami oleh Budianto.

    Budianto pun mengaku salah karena tidak memberikan bukti lengkap kepada IPW soal siapa oknum yang memerasnya hingga nama Andi Sinjaya dikaitkan.

    "Saya juga minta maaf kepada Pak Kasat, Andi Sinjaya. Karena tidak memberikan bukti yang seusai percakapan dengan si Alex ini," kata Budianto.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Ashraf Sinclair dan Selebritas yang Kena Serangan Jantung

    Selain Ashraf Sinclair, ada beberapa tokoh dari dunia hiburan dan bersinggungan dengan olah raga juga meninggal dunia karena serangan jantung.