Miris Korban Longsor Sukajaya, Warga: Mau ke Rumah Hancur

Reporter:
Editor:

Aditya Budiman

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Kondisi kampung Cileksa Utara usai diterjang longsor. Puluhan rumah hancur di Sukajaya, Kabupaten Bogor pada Kamis 16 Januari 2020. TEMPO|M.A MURTADHO

    Kondisi kampung Cileksa Utara usai diterjang longsor. Puluhan rumah hancur di Sukajaya, Kabupaten Bogor pada Kamis 16 Januari 2020. TEMPO|M.A MURTADHO

    TEMPO.CO, Bogor - Warga korban longsor Sukajaya, tepatnya di Kampung Cileksa Utara, sudah merasa tidak nyaman tinggal di posko pengungsian. Tokoh kampung, Juli, berharap pemerintah Kabupaten Bogor segera membangun rumah dan menyiapkan sumber mata pencaharian karena sawah dan ladang habis ditelan longsor.

    Pria berusia 45 tahun ini khawatir bila dalam dua bulan ke depan tidak ada tindakan nyata dari pemerintah, warga bakal mengalami stres. "Ya gimana tidak stres. Mau ke ladang hancur, mau ke rumah hancur. Belum lagi wabah penyakit yang mengintai," ucap Juli di Kampung Cileksa, Sukajaya, Kabupaten Bogor, Kamis, 16 Januari 2020.

    Juli mengatakan ada sekitar 893 warga yang harus mengungsi akibat longsor. Menurut dia, tidak semua warga mengungsi karena tidak tertampung di posko. Sebagian besar warga kini menjadikan lapangan alun-alun desa sebagai tempat pengungsian dengan membangun tenda darurat masing-masing.

    "Sekitar 200 tenda kami dirikan. Alhamdulillah itu dibantu oleh mantan anggota DPRD orang sini di hari pertama," kata Juli.

    Di lokasi pengungsian, satu tenda rata-rata ditempati dua sampai tiga kepala keluarga. Menurut Juli, posko di alun-alun desa hanya diisi warga Cileuksa Utara, belum termasuk tiga desa yang masih terisolir, yakni Cijairin, Parengpeng dan Cieyar.

    Ia menyebut warga di tiga desa tersebut terjebak karena semua akses terputus akibat longsor. Walhasil, warga masih bertahan di desa dan bertahan hidup dengan yang tersisa di kebun. "Kira-kira mereka ada 855 jiwa. Terbanyak di sini dan Cisusuh," kata Juli.

    Ketua RT 04 RW 01 Cileksa Utara, Ikhsan, mengatakan saat longsor terjadi di Gunung Pasir Markas tidak hanya tanah dan bebatuan yang ambrol menimpa kampung namun dari dalam gunung juga menyembur air bersih nan jernih seukuran betis manusia dewasa. Saat longsor terjadi pohon berjatuhan dan terdengar suara bebatuan beradu. "Kejadian berlangsung setengah jam lamanya, dari pukul 6.00 sampai 6.30 pagi," ucap pria berusia 48 tahun ini.

    M.A MURTADHO


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Virus Korona Wuhan Menjangkiti Kapal Pesiar Diamond Princess

    Jumlah orang yang terinfeksi virus korona Wuhan sampai Minggu, 16 Februari 2020 mencapai 71.226 orang. Termasuk di kapal pesiar Diamond Princess.