Banjir Jakarta, Pengeras Suara DWS Kampung Melayu Tak Berfungsi

Reporter:
Editor:

Aditya Budiman

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Kondisi toa peringatan dini banjir di RW03, Kelurahan Kampung Melayu, Jakarta Timur pada Jumat, 17 Januari 2020. Tempo/M Yusuf Manurung

    Kondisi toa peringatan dini banjir di RW03, Kelurahan Kampung Melayu, Jakarta Timur pada Jumat, 17 Januari 2020. Tempo/M Yusuf Manurung

    TEMPO.CO, Jakarta - Pengeras suara dari disaster warning system (DWS) di wilayah RW 03, Kelurahan Kampung Melayu, Jakarta Timur sudah tidak berfungsi. Pada banjir Jakarta 1 Januari lalu, alat peringatan dini tidak mengeluarkan suara.

    Menurut Ketua RW 03, Aga, toa berhenti berfungsi sejak 2016 karena kebakaran. "Pos kami kebakaran karena ada tawuran. Alat dan sambungan listrik ikut terbakar," kata dia kepada Tempo, Sabtu, 18 Januari 2020.

    Menurut Aga, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) DKI Jakarta telah memeriksa kondisi DWS beberapa waktu lalu. Mereka pun berjanji akan memperbaiki DWS.

    Kelurahan Kampung Melayu merupakan satu dari 14 titik rawan banjir yang sudah dipasangi alat peringatan dini banjir atau disaster warning system. BPBD DKI berencana mengadakan alat serupa di enam kelurahan lain dengan menghabiskan anggaran Rp 4,03 miliar.

    Selain di RW 03, toa sejenis juga berada di RW 07 Kampung Melayu. Menurut Ketua RW setempat, Majid, toa di wilayahnya masih berfungsi. Pada saat banjir di awal tahun 2020 seseorang sempat menyampaikan kondisi status siaga 1 dan 2 di pintu air Katulampa pada Selasa malam, 31 Desember 2019. Menurut dia, suara orang yang ada di toa berasal dari BPBD.

    "Jadi sistemnya online gitu. Dari BPBD DKI Jakarta disiarkan pakai toa ini," ujar Majid.

    Menurut Majid, pengelolaan toa dilakukan oleh BPBD DKI Jakarta. Alat peringatan dini di RW 07 itu disebut sudah berdiri sejak tahun 2009. Dia berujar, toa tidak bisa dioperasikan secara manual oleh warga.

    "Selama ini cuma orang itu (BPBD) saja yang ngomong. Tempatnya dikunci juga," kata Majid.

    Dalam rencana terbarunya, BPBD DKI Jakarta akan menghabiskan dana Rp 4 miliar untuk DWS dengan membeli sejumlah alat. Alat itu terdiri dari enam Stasiun Ekspansi Peringatan Dini Bencana Transmisi Vhf Radio senilai Rp 3,1 miliar; enam set pole DWS seharga Rp 353 juta; enam set Modifikasi software telementary dan Warning Console dengan Amplifier 100W senilai Rp 416 juta.

    Selanjutnya, enam set Coaxial arrester DWS seharga Rp 14 juta; enam set Horn speaker 30 W senilai Rp 7 juta; enam set Storage battery 20 Ah, 24V seharga Rp 70 juta dan enam set elemen antena seharga Rp 90 juta. Alat itu akan dibangun di Bukit Duri, Kebon Baru, Kedaung Kali Angke, Cengkareng Barat, Rawa Terate, dan Marunda.

    M YUSUF MANURUNG


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    BPOM, Panduan Penerapan New Normal di Warung Makan

    BPOM memberi petunjuk mengenai penerapan new normal di berbagai tempat. Ada enam rekomendasi ikhwal tatanan baru ketika mengunjungi warung makan.