BNPB Serukan Perbaikan Ekosistem di Hulu Bogor Untuk Atasi Banjir

Reporter:
Editor:

Febriyan

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Foto udara anggota tim SAR gabungan melakukan pencarian korban tanah longsor dan banjir bandang yang masih belum ditemukan di Kampung Sinar Harapan, Desa Harkat Jaya, Kecamatan Sukajaya, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, Sabtu, 11 Januari 2020. ANTARA

    Foto udara anggota tim SAR gabungan melakukan pencarian korban tanah longsor dan banjir bandang yang masih belum ditemukan di Kampung Sinar Harapan, Desa Harkat Jaya, Kecamatan Sukajaya, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, Sabtu, 11 Januari 2020. ANTARA

    TEMPO.CO, Jakarta - Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Doni Monardo, menyatakan dua penyebab utama banjir dan longsor di Kabupaten Bogor adalah karena rusaknya ekosistem kawasan konservasi di area hulu. Karena itu, dia menyerukan perbaikan ekosistem sebagai solusi secara permanen.

    Doni menyatakan bahwa kerusakan ekosistem tersebut disebabkan penebangan area konservasi serta adanya praktik tambang ilegal. Kedua hal itu dia temukan ketika meninjau lokasi bencana pada Sabtu pagi bersama jajaran kepolisian, Kementerian Lingkungan Hidup dan Bupati Bogor.

    "Dari tinjauan diketahui bahwa penyebab banjir dan longsor adalah kerusakan ekosistem akibat penebangan pohon sehingga gundul dan mudah longsor. Apalagi banyak daerah dengan kelerengan curam," ujar Doni dalam keterangan tertulis yang diterima Tempo, Sabtu 18 Januari 2020.

    "Penyebab lain adalah penambangan ilegal, dari udara terlihat ratusan tenda biru milik para penambang ilegal."

    Apalagi, menurut dia, para penambang ilegal tersebut juga menggunakan Merkuri yang bisa menyebabkan pencemaran logam berat yang berbahaya bagi manusia.

    Menurut Doni, banjir dan longsor sudah sering terjadi di wilayah Kabupaten Bogor. Hanya saja, menurut dia, bencana di awal tahun 2020 merupakan yang terbesar. Doni menilai, jika tidak ada perbaikan ekosistem maka ancaman bencana banjir dan longsor akan permanen.

    "Ancamannya permanen maka solusinya harus permanen juga" kata Doni.

    Eks Komandan Jenderal Komando Pasukan Khusus tersebut menuturkan bahwa satu-satunya solusi adalah pengembalian kawasan konservasi di hulu dan pelarangan penambangan liar serta peningkatan mata pencaharian penduduk. Untuk menindak lanjuti solusi itu, Doni berujar akan dibentuk Satgas bersama yang difasilitasi oleh BNPB dan melibatkan semua stake holder terkait.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Virus Korona Wuhan Menjangkiti Kapal Pesiar Diamond Princess

    Jumlah orang yang terinfeksi virus korona Wuhan sampai Minggu, 16 Februari 2020 mencapai 71.226 orang. Termasuk di kapal pesiar Diamond Princess.