BPPT: Curah Hujan Jabodetabek Turun 44 Persen karena Operasi TMC

Reporter:
Editor:

Clara Maria Tjandra Dewi H.

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Sejumlah Prajurit TNI AU memukul tabung penampung garam atau console dengan palu saat menyemai garam pada awan dalam Operasi Teknologi Modifikasi Cuaca (TMC) dengan menggunakan pesawat CN 295 di sekitar wilayah Perairan Selat Sunda, Selasa, 7 Januari 2020. TEMPO/M Taufan Rengganis

    Sejumlah Prajurit TNI AU memukul tabung penampung garam atau console dengan palu saat menyemai garam pada awan dalam Operasi Teknologi Modifikasi Cuaca (TMC) dengan menggunakan pesawat CN 295 di sekitar wilayah Perairan Selat Sunda, Selasa, 7 Januari 2020. TEMPO/M Taufan Rengganis

    TEMPO.CO, Jakarta - Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) mengklaim operasi Teknologi Modifikasi Cuaca (TMC) mampu pangkas curah hujan hingga 44 persen. Operasi TMC itu dilaksanakan sejak 3 Januari 2020 hingga saat ini untuk mengurangi curah hujan di wilayah Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang dan Bekasi (Jabodetabek.

    "Hasil operasi ini menunjukkan bahwa curah hujan di wilayah Jabodetabek mampu ditekan lebih kecil daripada rata-rata curah hujan di sekitarnya," kata Kepala Balai Besar Teknologi Modifikasi Cuaca (BBTMC) Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) Tri Handoko Seto dalam keterangan tertulis yang diterima ANTARA di Jakarta, Senin 20 Januari 2020.

    Pada Senin, operasi Teknologi Modifikasi Cuaca (TMC) telah melakukan penyemaian garam sebanyak 3.200 kilogram NaCl dengan tiga sortie penerbangan, yang menggunakan dua jenis pesawat yang dipinjamkan TNI AU yakni Cassa-212 A-2105 dan CN-295 A-2901.

    Dua jenis pesawat tersebut menuju ke arah Barat Laut- Timur Laut dan Barat Daya - Barat Laut Jabodetabek untuk melakukan penyemaian garam terhadap potensi awan hujan yang ada, agar jatuh di wilayah tersebut sebelum mencapai Jakarta dan sekitarnya.

    Cassa-212 A-2105 melakukan dua sortie penerbangan ke area Barat Laut-Timur Laut. Kemudian, CN-295 A-2901 melakukan sortie penerbangan menuju area Barat Daya-Barat Laut.

    Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) memprakirakan hujan lebat masih berpotensi terjadi di wilayah Jabodetabek pada 17-23 Januari 2020.

    Dihubungi secara terpisah, Kepala Pusat Meteorologi Publik BMKG Fachri Radjab mengatakan dari data hasil pengamatan curah hujan terlihat distribusi curah hujan di Jabodetabek masih cukup merata dengan intensitas sedang hingga lebat.

    Pada tanggal 8-10 Januari 2020 tercatat curah hujan dengan intensitas tinggi tersebar merata di seluruh wilayah Jabodetabek. Pada 16-19 Januari 2020 juga kembali terjadi hujan dengan intensitas lebat hingga sangat lebat. Di luar tanggal-tanggal tersebut terjadi hujan namun dengan intensitas ringan hingga sedang. Hujan yang turun tersebut tidak seekstrem pada 1 Januari 2020.

    Sejak 3 Januari-18 Januari 2020, pelaksanaan TMC telah dilakukan sebanyak 44 sortie penerbangan dengan total jam terbang lebih dari 95 jam dan total bahan semai yang digunakan lebih dari 73 ton, dengan ketinggian penyemaian sekitar 9.000- 12.000 kaki. Operasi TMC tersebut didukung dua unit pesawat TNI-AU, yaitu pesawat CN 295 registrasi A-2901 Skadron 2 dan pesawat Casa 212 registrasi A-2105 Skadron 4 Malang.

    Sejak 3 Januari 2020, BPPT bekerja sama dengan BNPB, TNI-AU dan BMKG memulai penanggulangan banjir di wilayah Jabodetabek dengan cara mempercepat penurunan hujan sebelum mencapai wilayah Jabodetabek.

    Operasi TMC berupaya untuk meningkatkan dan mempercepat jatuhnya hujan, yakni dengan cara melakukan penyemaian awan (cloud seeding) menggunakan bahan-bahan yang bersifat higroskopik atau menyerap air sehingga pertumbuhan butir-butir hujan dalam awan akan meningkat dan selanjutnya akan mempercepat terjadinya hujan.

    Operasi TMC tidak menghilangkan hujan tapi meredistribusi dan mengurangi potensi curah hujan di wilayah Jabodetabek. Penerbangan penyemaian dilakukan pada awan-awan potensial hujan di wilayah Kepulauan Seribu, sepanjang Selat Sunda, Ujung Kulon dan sekitarnya.



     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    KPK Berencana Menghapus Hasil Penyadapan 36 Perkara

    Terdapat mekanisme yang tak tegas mengenai penghapusan hasil penyadapan 36 penyelidikan yang dihentikan KPK.