Lutfi Mengaku Disetrum Polisi, Ananda Badudu Juga Alami Kekerasan

Reporter:
Editor:

Aditya Budiman

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Terdakwa demonstran pembawa bendera Merah Putih saat aksi pelajar di depan DPR September lalu, Dede Lutfi Alfiandi bersama ibunya saat menjalani sidang perdana di Pengadilan Negeri Jakarta Pusat, Kamis, 12 Desember 2019. Dalam sidang perdana ini beragendakan pembacaan dakwaan serta dihadiri oleh pihak keluarga tahanan. TEMPO/Muhammad Hidayat

    Terdakwa demonstran pembawa bendera Merah Putih saat aksi pelajar di depan DPR September lalu, Dede Lutfi Alfiandi bersama ibunya saat menjalani sidang perdana di Pengadilan Negeri Jakarta Pusat, Kamis, 12 Desember 2019. Dalam sidang perdana ini beragendakan pembacaan dakwaan serta dihadiri oleh pihak keluarga tahanan. TEMPO/Muhammad Hidayat

    TEMPO.CO, Jakarta - Musisi Ananda Badudu angkat bicara soal dugaan penganiayaan oleh polisi kepada pembawa bendera Merah Putih saat demonstrasi 30 September 2019, Dede Lutfi Alfiandi. Ananda mengatakan dirinya juga mengalami kekerasan fisik yang sama dari polisi, seperti yang dialami oleh Lutfi.

    "Pas saya dibawa ke Polda dulu, saya pun dipukul, dipiting, dijambak, ditendang, dan dikeplak berkali-kali," cuit Ananda di Twitter miliknya @anandabadudu, Selasa, 21 Januari 2020.

    Ananda bercerita saat itu tak bisa mengatakan apa-apa soal penganiayaan yang diterimanya. Sebab, dia diancam dengan pidana baru dan akan disomasi.

    Keanehan dari peristiwa yang menimpanya, yakni saat polisi membebaskannya dan hanya menetapkan mantan wartawan Tempo itu sebagai saksi. Padahal, menurut dia tak ada saksi yang dijemput subuh-subuh oleh polisi dan mendapat kekerasan fisik seperti itu.

    "Mirip seperti Lutfi, makin siang saya diperlakukan lebih baik. Mungkin karena di luar berita tentang saya waktu itu viral," kata Ananda.

    Musisi dan mantan wartawan Tempo, Ananda Badudu, memberikan keterangan pers terkait penangkapan dirinya dan penggalan dana untuk membantu aksi mahasiswa melalui KitaBisa.com di Gedung Tempo, Palmerah Barat, Jakarta, Selasa, 1 Oktober 2019. Dalam kesempatan itu, Ananda Badudu merasakan dukungan yang besar dari netizen dan merasa perlu mengucapkan terima kasih sebesar-besarnya. TEMPO/Nita Dian

    Mantan personil grup musik Banda Neira itu diciduk polisi di kediamannya di Gedung Sarana Jaya, Tebet, Jakarta Selatan pada Jumat subuh, 27 September 2019.

    Polisi menjemput Ananda untuk dimintai keterangan soal aksinya melakukan penggalangan dana untuk demonstran di depan Gedung DPR. Penggalangan itu Ananda lakukan melalui laman Kitabisa.com.

    Sementara itu, dalam sidang lanjutan kasus kekerasan di Pengadilan Negeri Jakarta Pusat Senin kemarin, Lutfi mengatakan saat di-BAP oleh polisi di Polres Jakarta Barat, mendapat tekanan berupa kekerasan. Di sana, Lutfi memberikan keterangan sesuai dengan yang diinginkan oleh kepolisian, yakni menyerang polisi dengan batu.

    "Kalau dari cerita dia, disetrum itu pakai alat yang ditaruh di kupingnya," kata kuasa hukum Lutfi, Sutra Dewi.

    Foto Lutfi Alfiandi yang membawa bendera Merah Putih pada demo 30 September 2019 lalu viral di media sosial. Di foto itu, lelaki 21 tahun yang mengenakan celana abu-abu tampak menutup wajahnya dengan bendera.

    Lutfi kemudian ditangkap karena dianggap menyerang polisi. Ia didakwa dengan tiga pasal alternatif, yaitu Pasal 212 KUHP tentang kekerasan atau ancaman kekerasan, Pasal 214 ayat 1 KUHP karena melawan saat hendak ditangkap, dan Pasal 170 ayat 1 KUHP tentang kekerasan yang dilakukan banyak orang.

    M JULNIS FIRMANSYAH


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Virus Korona Wuhan Menjangkiti Kapal Pesiar Diamond Princess

    Jumlah orang yang terinfeksi virus korona Wuhan sampai Minggu, 16 Februari 2020 mencapai 71.226 orang. Termasuk di kapal pesiar Diamond Princess.