Datangi Kemenkumham, Warga Priok: Yasonna Laoly Sulut Emosi

Reporter:
Editor:

Febriyan

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Yasonna Laoly tiba di Komplek Istana Kepresidenan, Jakarta, Selasa 22 Oktober 2019. TEMPO/Subekti

    Yasonna Laoly tiba di Komplek Istana Kepresidenan, Jakarta, Selasa 22 Oktober 2019. TEMPO/Subekti

    TEMPO.CO, Jakarta - Ratusan warga Tanjung Priok berencana menggeruduk Kementerian Hukum dan HAM (Kemenkumham) pada Rabu siang ini, 22 Januari 2020. Mereka meminta Menteri Hukum dan HAM Yasonna Laoly meminta maaf atas ucapannya yang dinilai merendahkan warga Tanjung Priok.

    Ketua RT 002 Kebon Bawang, Tanjung Priok, Yeni Iryani, menilai Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia Yasonna Laoly seharusnya tak melontarkan pernyataan yang tak pantas. Menurut Yeni, ucapan Yasonna seolah-olah mau membangkitkan emosi warga.

    "Itu seakan-akan mau menyulut emosi warga, seharusnya kan menyatukan," kata Yeni saat ditemui di kediamannya di Jalan Swasembada Barat 2, Kebon Bawang, Tanjung Priok, Jakarta Utara, Selasa, 21 Januari 2020.

    Yeni menganggap menteri merupakan panutan warga. Karena itu, dia menyebut, pejabat negara tak perlu membanding-bandingkan antar warga meski ucapannya soal anak Tanjung Priok benar. Menurut dia, dulu Tanjung Priok memang terkesan kawasan seram. Namun, kesan itu tak lagi tampak saat ini.

    "Bagaimanapun kejahatan, kriminalitas, kemudian penduduk belum berkembang tidak hanya di Priok. Di selatan dan timur juga ada yang kumuh, enggak harus Priok," ucap wanita 53 tahun ini. "Enggak usahlah dibandingkan. Kami enggak suka dibandingkan."

    Demonstrasi warga Tanjung Priok itu merupakan buntut dari ucapan Yasonna dalam sambutannya di acara 'Resolusi Pemasyarakatan 2020 Direktorat Jenderal Pemasyarakatan (Ditjen PAS)' di Lapas Narkotika Kelas IIA Jatinegara, Jakarta, Kamis pekan lalu. Saat itu, Yasonna menyatakan bahwa kejahatan lebih banyak muncul di daerah kumuh.

    Dia pun membandingkan anak yang tumbuh di Tanjung Priok dengan anak yang tumbuh di kawasan elite Menteng. Menurut dia, anak yang tumbuh di Menteng tak mungkin melakukan kejahatan ketimbang anak yang tumbuh di Tanjung Priok.

    "Crime is a social product, crime is a social problem. As a social problem, sebagai problem sosial, masyarakat kita semua punya tanggung jawab soal itu. Itu sebabnya kejahatan lebih banyak di daerah miskin," kata Yasonna.

    "Yang membuat itu menjadi besar adalah penyakit sosial yang ada. Itu sebabnya kejahatan lebih banyak terjadi di daerah-daerah miskin. Slum areas (daerah kumuh), bukan di Menteng. Anak-anak Menteng tidak, tapi coba pergi ke Tanjung Priok. Di situ ada kriminal, lahir dari kemiskinan," ujar politikus PDI Perjuangan tersebut.

    Sontak pernyataan Yasonna Laoly menjadi viral dan menyulut protes warga Tanjung Priok. Mereka pun mendesak pria berusia 66 tahun itu untuk meminta maaf secara terbuka.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Resep Mudah Membuat Disinfektan Saat Wabah Virus Corona

    Ketika wabah virus corona merebak, cairan disinfektan kian diminati masyarakat. Bila kehabisan, ada cara alternatif membuat cairan anti kuman itu.