Begini Sulitnya Bantuan Logistik Dikirim ke Cileksa Bogor

Reporter:
Editor:

Martha Warta Silaban

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Warga Cileksa saat gunakan tali katrol atau flying fox untuk pendistribusian bantuan logistik menyebrangi kali Ciberang, Sukajaya, Kabupaten Bogor, Kamis 23 Januari 2020. TEMPO/M.A MURTADHO

    Warga Cileksa saat gunakan tali katrol atau flying fox untuk pendistribusian bantuan logistik menyebrangi kali Ciberang, Sukajaya, Kabupaten Bogor, Kamis 23 Januari 2020. TEMPO/M.A MURTADHO

    TEMPO.CO, Jakarta -Berbagai cara dilakukan warga atau relawan untuk mendistribusikan bantuan logistik ke Kampung Parempeng, Desa Cileksa. Salah satunya dengan menggunakan tali bentang dan katrol, atau bisa disebut juga flying fox.

    Ketua Rukun Warga setempat, Jamar, 57 tahun, mengatakan penggunaan tali katrol untuk mengantarkan bantuan melintasi kali Ciberang. "Kalau tanpa tali itu warga kesulitan sekali menyeberangi sungai. Selain deras alirannya, juga harus turun naik," ujar Jamar di Cileksa, Kecamatan Sukajaya, Kabupaten Bogor, Kamis petang 23 Januari 2020.

    Jamar mengatakan tali katrol tersebut dibuatkan oleh relawan yang datang dari kelompok pecinta alam. Karena mereka tidak tega melihat warga setiap hari-- siang malam-- harus menaiki bukit juga melewati sungai. Selain itu, para inisiator pembuat tali katrol tersebut juga merasa khawatir terjadi bandang di kali Ciberang saat warga sedang membawa bantuan logistik.

    "Jadi kata mereka sebetulnya tali itu biasa dipakai permainan flying fox. Namun di sini kami memakainya untuk menyeberangkan logistik," kata Jamar.

    Salah seorang operator tali katrol tersebut, Yogi, 33 tahun, mengatakan beban yang bisa diseberangkan dengan menggunakan tali tersebut tidak lebih dari 50 kilogram. Alasannya menurut Yogi selain menjaga tali tidak putus, juga untuk menjaga keamanan dan keselamatan warga saat menaikkan dan menurunkan bantuan agar tidak terbawa beban. "Juga untuk memperlancar alur katrolnya biar tidak macet di tengah, kan repot kalau macet," ucap Yogi.

    Pantauan Tempo di lapangan setelah bantuan-bantuan logistik tersebut diantarkan dengan tali katrol, maka beberapa warga akan memikul, menaiki bukit curam dan meneruskan bantuan tersebut atau diestafetkan ke pengemudi kendaraan roda dua. Hal itu mereka lakukan, karena bantuan jalur udara terhenti dalam satu pekan terakhir ini.

    Lalu pengemudi roda dua tersebut akan meneruskan ke tiga kampung yang hingga hari ini masih terisolir yaitu, Parempeng, Cijairin dan Cieyar. Waktu tempuh ke tiga kampung tersebut dari pusat desa Cileksa, kurang lebih 2 hingga 3 jam jalan kaki.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Virus Korona Wuhan Menjangkiti Kapal Pesiar Diamond Princess

    Jumlah orang yang terinfeksi virus korona Wuhan sampai Minggu, 16 Februari 2020 mencapai 71.226 orang. Termasuk di kapal pesiar Diamond Princess.