Kronologi Kasus Penipuan Eks Dirut Transjakarta Donny Saragih

Reporter:
Editor:

Juli Hantoro

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Donny Andy Saragih. Twitter/@Tfjakarta

    Donny Andy Saragih. Twitter/@Tfjakarta

    TEMPO.CO, Jakarta - Mantan Direktur Utama PT Transjakarta yang baru dipecat, Donny Andy S. Saragih diduga melakukan penipuan dan penggelapan uang perusahaan PT Lorena Transport senilai Rp 1,5 miliar. Karena itu, ia dilaporkan ke Polda Metro Jaya oleh Direktur Utama PT Lorena Transport, Gusti Terkelin Soerbakti pada 2018.

    Pengacara Soerbakti, Artanta Barus menjelaskan bahwa dugaan praktik penggelapan itu berlangsung sekitar 2014-2015. Saat itu, Donny masih menjabat sebagai General Manager Lorena Busway. Lorena merupakan operator bagi Transjakarta sejak 2008 atau saat masih merupakan badan Layanan Umum (BLU) sebelum menjadi BUMD DKI Jakarta.

    "Saat itu terlapor mendatangi Pak Soerbakti. Ia meminta klien saya untuk membayarkan sejumlah denda kepada UPT Transjakarta," ujar Artanta kepada Tempo pada Jumat, 28 Januari 2020.

    Menurut Artanta, Donny meminta sejumlah uang dengan membawa data berita acara denda yang memakai kop Transjakarta. Surat itu juga ditandatangani oleh salah satu direksi UPT Transjakarta. Di dalamnya, ada delapan lembar cek berisi biaya denda yang harus dibayarkan bernilai ratusan juta atau jika ditotal sekitar Rp 1,5 miliar.

    "Sekitar tahun 2018, kami mengkaji ulang pembayaran denda tersebut," kata dia.

    Menurut Artanta, biasanya denda dibayarkan langsung melalui potongan pembayaran dari Transjakarta bukan seperti yang diminta oleh Donny Saragih. Mekanisme itu disebut sesuai dengan yang tertulis dalam kontrak antara Transjakarta dan Lorena.

    "Denda biasanya timbul karena bus operator tidak jalan atau rusak," ujar Artanta.

    Artanta berujar, kliennya lantas mengecek pembayaran denda yang diminta oleh Donny itu ke Bank Mandiri. Data dari bank menunjukkan bahwa, 7 cek dicairkan oleh orang bernama Agus Basuki dan 1 sisanya oleh Sunani. Menurut dia, Soerbakti lantas menyurati Transjakarta untuk meminta konfirmasi serta menanyakan status dua orang yang mencairkan cek pembayaran denda.

    "Surat tersebut dijawab oleh Transjakarta secara tertulis yang ditandatangani oleh direktur utamanya waktu itu Pak Budi Kaliwono," ujar Artanta.

    Melalui surat balasan itu, Transjakarta mengaku tidak pernah meminta atau menerima adanya pembayaran denda seperti yang dibuat oleh Donny Saragih. Selain itu, Transjakarta mengakui bahwa Agus Basuki memang tercatat sebagai karyawannya sejak 2015 hingga surat tersebut diterima Lorena Transport.

    "Sementara yang Sunani, mereka tidak tahu," kata dia.

    Soerbakti lantas melaporkan masalah ini ke Polda Metro Jaya. Laporannya terdaftar dengan nomor LP/5008/IX/2018/PMJ/Dit.Reskrimum. Para terlapor yakni Donny, Agus Basuki dan Sunani diduga melanggar Pasal 372 dan 378 Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP).

    Saat terlibat dugaan penggelapan masih berproses di Polda Metro Jaya, Donny malah sempat diangkat menjadi Direktur Utama PT Transjakarta. Namun setelah tiga hari menjabat, ia dicopot dari jabatannya per kemarin, Kamis, 27 Januari 2020.

    Badan Pembinaan Badan Usaha Milik Daerah DKI Jakarta membatalkan pengangkatan Donny Saragih. Pembatalan itu diambil melalui mekanisme keputusan para pemegang saham di luar Rapat Umum Pemegang Saham PT Transjakarta merujuk pada Peraturan Pemerintah Nomor 54 tahun 2017 tentang BUMD.

    “Pembatalan ini dilakukan karena Donny Saragih, yang selama ini menjabat sebagai Wakil Ketua Dewan Transportasi Kota Jakarta (2017-2022), terbukti telah menyatakan hal yang tidak benar untuk kepentingannya dalam mengikuti proses seleksi sebagai direksi BUMD,” kata Kepala BP BUMD Pemerintah Provinsi DKI Jakarta, Faisal Syafruddin, dalam keterangan tertulisnya yang diunggah dalam situs resmi ppid.jakarta.go.id.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Virus Korona Wuhan Menjangkiti Kapal Pesiar Diamond Princess

    Jumlah orang yang terinfeksi virus korona Wuhan sampai Minggu, 16 Februari 2020 mencapai 71.226 orang. Termasuk di kapal pesiar Diamond Princess.