Bangun Transportasi Berbasis Rel, Depok Butuh Rp 12 Triliun

Reporter:
Editor:

Clara Maria Tjandra Dewi H.

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Sejumlah kendaran terjebak kemacetan yang terjadi dijalan Lenteng Agung Timur mengarah Depok, Jakarta, (23/11). Kemacetan terjadi karna dampak musibah tanah longsor didaerah Desa Cilebut Timur, Sukaraja, Bogor. Tempo/Dian Triyuli Handoko

    Sejumlah kendaran terjebak kemacetan yang terjadi dijalan Lenteng Agung Timur mengarah Depok, Jakarta, (23/11). Kemacetan terjadi karna dampak musibah tanah longsor didaerah Desa Cilebut Timur, Sukaraja, Bogor. Tempo/Dian Triyuli Handoko

    TEMPO.CO, Depok - Wali Kota Depok Mohammad Idris mengatakan butuh dana Rp 12 triliun untuk membangun transportasi berbasis rel dengan empat koridor di wilayahnya.

    "Jadi untuk satu koridor dibutuhkan biaya Rp3 triliun," kata Idris di Depok, Kamis 30 Januari 2020.

    Menurut Mohammad Idris, dalam studi kelayakan transportasi rel yang disusun oleh Dinas Perhubungan (Dishub) Kota Depok, akan dibangun empat jalur koridor yang bakal terhubung dengan moda transportasi lainnya.

    Keempat koridor tersebut, yakni koridor 1 sepanjang 10,8 km yang dimulai dari Transit Oriented Development (TOD) Pondok Cina sampai Stasiun LRT Cibubur. Koridor 2 sepanjang 16,7 km dari TOD Depok Baru sampai Cinere dan diharapkan dapat terkoneksi dengan stasiun MRT Lebak Bulus.

    Koridor 3 sepanjang 10,7 km mulai dari TOD Depok Baru sampai Bojongsari dan koridor 4 sepanjang 13,8 km mulai dari TOD Depok Baru sampai TOD Gunung Putri.

    Biaya ini sangat mahal sehingga Idris akan mengundang investor untuk mengerjakan pembangunan transportasi berbasis rel tersebut. "Ini akan kami jual ke investor," ujarnya.

    Wali Kota Depok mewacanakan pembangunan transportasi berbasis rel ini untuk mengurangi kemacetan. "Wacana ini ilmiah karena berdasarkan studi kelayakan yang dilakukan oleh para pakar," katanya.
     


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Curah Hujan Ekstrem dan Sungai Meluap, Jakarta Banjir Lagi

    Menurut BPBD DKI Jakarta, curah hujan ekstrem kembali membuat Jakarta banjir pada 23 Februari 2020.