Bosan di Pengungsian, Korban Longsor Sukajaya Bangun Rumah

Reporter:
Editor:

Aditya Budiman

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Warga bergotong royong membangun rumah baru karena sudah tidak betah tinggal di tenda pengungsian di Cileuksa, Sukajaya, Kabupaten Bogor, Rabu 5 Februari 2020. TEMPO|M.A Murtadho

    Warga bergotong royong membangun rumah baru karena sudah tidak betah tinggal di tenda pengungsian di Cileuksa, Sukajaya, Kabupaten Bogor, Rabu 5 Februari 2020. TEMPO|M.A Murtadho

    TEMPO.CO, Bogor - Korban longsor di Kecamatan Sukajaya, Kabupaten Bogor berinisiatif membangun rumah. Warga Desa Cileuksa yang sudah sebulan tinggal di posko pengungsian Cipugur memilih untuk membangun rumahnya sendiri dengan menggunakan dana dan pembangunan swadaya masyarakat. 

    "Kami sudah tidak betah di pengungsian. Makanya sambil menunggu bantuan pemerintah datang, kami rapikan dulu lahan dan sedikit demi sedikit kumpulkan bahan material," ucap Syarifah kepada Tempo di Sukajaya, Rabu 5 Februari 2020.

    Syarifah mengatakan para korban longsor yang menempati satu tenda bisa mencapai belasan orang atau tiga hingga lima kepala keluarga. Sehingga mereka merasa sudah saatnya untuk bangkit dan bergotong royong, meski membangun dengan seadanya. Warga bersyukur mendapat bantuan dari tokoh desa yang rela memberikan lahan dan membantu mengukur serta menggali uruk lahan.

    Selain rumah, Syarifah menyebut warga membutuhkan fasilitas lain seperti sekolah, masjid, dan madrasah. "Selain itu kami pun butuh lapangan kerja karena sumber mata pencaharian juga turut hilang di makan longsor," ucap Syarifah.

    Tokoh desa setempat Ade Ruhandi mengatakan lokasi yang akan dijadikan pemukiman baru bagi para korban berdiri di atas lahan seluas 7,4 hektare di bukit Pandawa. Ade menyebut di atas lahan itu akan di bangunkan hunian untuk 200 kepala keluarga lebih korban longsor Sukajaya. Menurut dia, satu keluarga bisa memiliki satu kapling. Ade belum bisa memastikan apakah lahan tersebut ke depannya akan menjadi hunian tetap. 

    "Terpenting kami action dulu. Korban punya tempat tinggal sendiri-sendiri. Kami buat senyaman mungkin," ucap Ade yang pernah menjabat Ketua DPRD Kabupaten Bogor.

    Ade mengatakan lahan yang dijadikan tempat hunian baru tersebut di ukur langsung oleh Badan Pertanahan Nasional Kabupaten Bogor. Sehingga ke depan jika diteruskan menjadi hunian tetap maka tinggal mengurusi surat administrasi.

    Ade mengatakan untuk biaya dan pembangunan berasal dari swadaya masyarakat sendiri. Sehingga jika sudah tiba saatnya bantuan dari pemerintah tinggal meneruskan atau mempercantik rumah. "Modal kami komitmen dan keinginan yang kuat. Terpenting itu tadi, warga memiliki rumah sendiri dan tidak lagi di tenda," ucap dia.

    Salah seorang warga setempat lainnya, Neneng, mengaku sangat senang sebab rumah miliknya hancur tidak bersisa diterjang longsor. "Jadi apapun bentuk dan ukurannya kami sangat bahagia dan semoga bisa melanjutkan hidup," ucap perempuan berusia 24 tahun ini.

    Turut hadir dalam peresmian dan peletakan batu pertama hunian itu, beberapa pimpinan Dewan Kabupaten Bogor, yaitu Rudi Susmanto dan Ketua Komisi III, Sastra Winarya, dan juga Wakil Komisi III, Aan Triana Almuharom.

    Rudi mengatakan pembangunan hunian bagi korban longsor itu adalah yang pertama pasca bencana dalam empat pekan terakhir. Ia kaget dengan semangat warga Sukajaya yang mengklaim mampu membangun satu rumah dalam 10 sepuluh hari dengan material yang terbatas. "Kami sangat mengapresiasi mereka. Mereka bangkit setelah bencana merenggut kampung dan rumahnya," ucap Rudi.

    M.A MURTADHO


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Curah Hujan Ekstrem dan Sungai Meluap, Jakarta Banjir Lagi

    Menurut BPBD DKI Jakarta, curah hujan ekstrem kembali membuat Jakarta banjir pada 23 Februari 2020.