Revitalisasi Monas, Pemindahan Lenggang Jakarta ke Gambir Dikaji

Reporter:
Editor:

Clara Maria Tjandra Dewi H.

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Pedagang kaki lima berjualan di kawasan pusat kuliner Lenggang Jakarta Monas, Jakarta, 16 Maret 2016. Pengambil alihan ini bertujuan menurunkan harga jual produk pedagang yang saat ini dinilai cukup tinggi bagi konsumen. TEMPO/Subekti

    Pedagang kaki lima berjualan di kawasan pusat kuliner Lenggang Jakarta Monas, Jakarta, 16 Maret 2016. Pengambil alihan ini bertujuan menurunkan harga jual produk pedagang yang saat ini dinilai cukup tinggi bagi konsumen. TEMPO/Subekti

    TEMPO.CO, Jakarta - Relokasi pusat kuliner, oleh-oleh dan cinderamata di Lenggang Jakarta ke dekat Stasiun Gambir terkait Revitalisasi Monas belum final.

    Pelaksana tugas (plt) Kepala Dinas Perindustrian, Perdagangan dan Usaha Kecil Menengah (DPPUKM) DKI Jakarta Elizabeth Ratu Rante Allo mengatakan relokasi masih dikaji karena pertimbangan lokasi yang jarang dilintasi orang dan kapasitas kecil.

    "Belum final karena di ujung sana itu terlalu jauh dan kecil kapasitasnya dan menata ini kan butuh ruang," kata Ratu di Jakarta, Minggu 9 Februari 2020.

    Dinas Perindustrian DKI enggan berspekulasi soal opsi jika nantinya kawasan di dekat Stasiun Gambir tidak cukup untuk menampung semua pedagang Lenggang Jakarta yang direlokasi. 

    Suasana lokasi revitalisasi di Monumen Nasional (Monas), Jakarta, Rabu, 29 Januari 2020. Pemerintah Provinsi DKI Jakarta resmi menghentikan proyek revitalisasi Monas untuk sementara waktu setelah menuai banyak polemik. TEMPO/Ahmad Tri Hawaari

    "Saya gak mau berandai-andai, kita kan harus duduk bareng semuanya dari awal, kalau memang gak mungkin jangan coba-coba, kita carikan alternatif lain. Disebar ke lokasi sementara (loksem) mungkin saja, itu opsi terjelek. Tapi kami harap masih di kawasan Monas," kata Ratu.

    Untuk kawasan Gambir yang kemungkinan akan dibuat loksem atau pujasera, kata Ratu, para pedagang mengharapkan banyak pengunjung datang. Karenanya lokasi yang berdekatan dengan pintu masuk harus dipertimbangkan dalam relokasi.

    "Kalau kejauhan, siapa yang akan datang, karena kan dagang itu mengharapkan omzet pelanggan. Sama seperti di Kota Tua, ada lokasi binaan (lokbin) di sana, tapi pedagang malah ke luar ke Taman Fatahillah karena tidak ada yang datang ke situ. Gak jauh sebenarnya, kami sudah ukur jarak sekitar 280 meter lah. Karenanya kita harus rekayasa lalu lintasnya agar lokbin bisa hidup," kata Ratu.

    Kendati demikian, Ratu menyampaikan pihaknya telah memberi pengarahan pada para pedagang agar bersiap untuk keperluan relokasi, meski belum secara formal disosialisasikan pada para pedagang.

    "Kami tunggu rencana besarnya dari Dinas Cipta Karya. Saya bilang ke Citata, beri saya kepastian kapan lampu hijaunya, agar saya beri ancang-ancang juga untuk persiapkan binaan saya," kata Ratu.

    Untuk kondisi saat ini, di Lenggang Jakarta tercatat ada 339 pelaku usaha di sisi selatan Monas. Kontrak selama lima tahun dengan Sosro juga sudah diakhiri oleh DPPUKM sejak 2 Februari 2020.

    Para pedagang tersebut bakal dipindah ke sisi timur Monas atau dekat Stasiun Gambir menyusul proyek revitalisasi Monas yang saat ini dikerjakan Pemprov DKI Jakarta.

    Selama ini, skema usaha pedagang di sana membayar iuran sebesar Rp350.000 per bulan. Tidak hanya makanan dan minuman, jenis pelaku UMKM di sana juga menjajakan kerajinan tangan, busana, cindera mata dan sebagainya.

    Pemenang sayembara revitalisasi Monas, Prinsipal LABO Architects Deddy Wahjudi mengatakan ratusan pedagang kuliner di Lenggang Jakarta dan parkiran IRTI di sisi selatan Monas, akan dipindahkan dalam konsep yang dibuatnya. 

    Dalam desain revitalisasi Monas yang dibuatnya, Lenggang Jakarta akan dipindah di kawasan timur Monas atau berdekatan dengan Stasiun Gambir. Pemindahannya dianggap penting karena selama ini Stasiun Gambir seperti bagian terpisahkan dari Taman Medan Merdeka, padahal masih berada di satu kawasan yang sama. "Jadi Stasiun Gambir kayak punya teritori sendiri saat mereka membangun," ujarnya. "Aksesibilitasnya juga tidak langsung, jadi orang dari Stasiun Gambir menuju Taman Medan Merdeka harus keluar dulu, begitu juga sebaliknya."


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    GERD Memang Tak Membunuhmu tapi Dampaknya Bikin Sengsara

    Walau tak mematikan, Gastroesophageal reflux disease alias GERD menyebabkan berbagai kesengsaraan.