Polisi Duga Ada Salah Paham dalam Kisah Penumpang Taksi Online

Reporter:
Editor:

Juli Hantoro

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Yusri Yunus di kawasan Monas, Jakarta Pusat, Selasa, 3 Desember 2019. TEMPO/Lani Diana

    Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Yusri Yunus di kawasan Monas, Jakarta Pusat, Selasa, 3 Desember 2019. TEMPO/Lani Diana

    TEMPO.CO, Jakarta - Penyidik Kepolisan Daerah Metro Jaya telah memeriksa sopir taksi online Grab Car yang viral karena diduga akan menculik seorang penumpangnya. Kepada polisi, sang sopir mengatakan bahwa hal ini terjadi karena kesalahannya saat menerima orderan penumpang di aplikasi Grab.

    Saat menerima orderan itu, penumpang memasukkan 2 tujuan, yang pertama dengan tujuan Dharmawangsa, Jakarta Selatan, untuk menjemput seseorang, kemudian berlanjut ke ICE BSD, Tangerang.

    "Keterangan awal si sopir ini memang ada kesalahan saat menekan (terima orderan), langsung ke BSD, sehingga yang tujuanya mau ke Dharmawangsa langsung arahnya ke sana," ujar Kepala Bidang Humas Polda Metro Jaya Komisaris Besar Yusri Yunus di kantornya, Jakarta Selatan, Selasa, 11 Februari 2020.

    Atas keterangan itu, Yusri mengatakan pihaknya menerapkan asas praduga tak bersalah kepada sang sopir. Pihaknya juga berencana mempertemukan antara penumpang dan sang sopir dalam waktu dekat ini untuk mencocokkan keterangan.

    "Pendapat ini masih didalami dulu oleh tim penyidik," kata Yusri.

    Viralnya dugaan penculikan ini dibagikan oleh seseorang berinisial T. Ia menceritakan pengalaman yang diduga penculikan itu terjadi pada Sabtu siang, 8 Februari 2020, saat memesan Grab Car dengan dua tujuan yaitu ke Dharmawangsa dan ICE BSD Tangerang Selatan.

    "Jalan dari kosan ke arah kantor gua tuh harusnya putar balik and dia malah lurus," tulis T dalam instastory-nya yang kemudian viral di media sosial. Dia sudah mengizinkan Tempo mengutip instastory-nya.

    T mengatakan, hal ini menjadi awal kecurigaannya terhadap sopir taksi online itu. Dia lalu mencoba memberi tahu sopir bahwa jalan menuju kantornya itu salah, namun sang sopir ngotot lewat jalan tersebut dengan alasan mengikuti panduan Google Maps.

    "Oke gua ngalah, karena masa iya sih aneh-aneh masih siang begini," tulisnya.

    Namun, kecurigaan T makin bertambah saat mendengar sang sopir berbicara berbisik kepada seseorang melalui walkie-talkie. Dalam pembicaraan itu, sang sopir mengatakan "Poin 1 masuk, masuk 1."

    T makin khawatir saat mobil justru membawanya memasuki tol menuju Merak, Banten. T pun segera meminta sopir memutar balik tapi sopir ngotot lewat jalur tersebut dengan alasan mengikuti tol.

    "Iya ke sana kok (ICE BSD), ini ngikutin maps-nya," tulis T menirukan ucapan sang sopir.

    Di tengah kepanikannya, korban kemudian memberi kabar ke pacarnya soal gerak gerik mencurigakan sang sopir. Ia kemudian menelepon layanan Grab Center melalui panic button di aplikasi.

    Dengan suara yang diperkeras, T bercerita kepada operator bahwa sedang menjadi percobaan penculikan oleh sang supir. Operator kemudian mengatakan telah melacak keberadaan T dan akan segera mengirimkan bantuan terdekat. Mendengar hal itu, pelaku panik dan segera menurunkannya di pinggir jalan Tol Merak.

    Atas kejadian itu, T melaporkan dugaan penculikan itu ke Polda Metro Jaya pada Senin sore. Polisi pun sudah menangkap sopir dan masih menjalani pemeriksaan sampai sekarang.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    BPOM, Panduan Penerapan New Normal di Warung Makan

    BPOM memberi petunjuk mengenai penerapan new normal di berbagai tempat. Ada enam rekomendasi ikhwal tatanan baru ketika mengunjungi warung makan.