DPRD DKI Sebut Balap Formula E di Luar Monas Lebih Menguntungkan

Reporter:
Editor:

Clara Maria Tjandra Dewi H.

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan didampingi pebalap Sean Gelael didalam mobil BMW i8 Roadster ketika mengikuti konvoi mobil listrik melintas di Bundaran Hotel Indonesia, Jakarta, Jumat 20 September 2019. Pemprov DKI Jakarta harus menggelontorkan Rp3,1 triliun untuk memuluskan proyek balapan Formula E di Jakarta ini. ANTARA FOTO/M Risyal Hidayat

    Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan didampingi pebalap Sean Gelael didalam mobil BMW i8 Roadster ketika mengikuti konvoi mobil listrik melintas di Bundaran Hotel Indonesia, Jakarta, Jumat 20 September 2019. Pemprov DKI Jakarta harus menggelontorkan Rp3,1 triliun untuk memuluskan proyek balapan Formula E di Jakarta ini. ANTARA FOTO/M Risyal Hidayat

    TEMPO.CO, Jakarta - Ketua Komisi B DPRD DKI Abdul Aziz mendorong Formula E digelar di Monas karena bakal membawa nama Indonesia di kancah dunia.

    "Jadi baik buruknya yang merasakan bukan Jakarta, tapi Indonesia," kata Aziz saat ditemui di DPRD DKI, Senin, 10 Februari 2020.

    Penyelenggaraan balap Formula E di Monas bakal mengenalkan ikon nasional itu di mata dunia. Cara ini, kata dia, sama seperti yang dilakukan Perancis menyelenggarakan Formula E di dekat kawasan Menara Eiffel.

    Menurut dia, langkah DKI awalnya memilih Monas karena ingin menjadikan kawasan itu magnet untuk disaksikan wisatawan mancanegara. "Sebenarnya Monas ingin dikapitalisasi untuk kepentingan mengenalkan Indonesia. Jadi nanti orang tidak bertanya lagi Monas itu ada di mana," ujarnya.

    Namun jika Pemrov DKI ingin mencari keuntungan dalam bentuk uang, kata Aziz, penyelenggaraan balap Formula E bisa dilakukan di luar Monas. Sebab, kata dia, berdasarkan kajian PT Jakarta Propertindo, penyelenggaraan Formula E lebih menguntungkan digelar di kawasan Sudirman dan Gelora Bung Karno (GBK).

    "Di GBK akan lebih banyak menarik sponsor berdasarkan kajian Jakpro," ujarnya.

    Menurut kajian tersebut, sponsor bakal lebih banyak di kawasan GBK karena pemerintah bisa memasang iklan di tiga pagar lintasan. Sponsor, kata dia, bisa dipasang di kiri, kanan dan tengah lintasan. "Sedangkan kalau di Monas hanya bisa dipasang di kiri dan kanan lintasan. Kalau mau mencari keuntungan ya di luar Monas," ujarnya.

    Aziz menuturkan semestinya pemerintah pusat memahami rencana DKI, yang mau memperkenalkan ikon nasional itu kepada dunia. "Dari awal DKI punya plan A, B dan C. Track arah Senayan memang sudah ada. Tapi negatifnya Monas tidak terekspos," ujarnya.

    Selain itu, penyelenggaraan Formula E di ibu kota juga tidak bakal terasa keuntungannya saat event yang pertama. Keuntungan penyelenggaraan balap mobil listrik itu bakal dirasakan setelah beberapa tahun karena Pemerintah Provinsi DKI bakal menyelenggarakan balap mobil listrik ini selama lima tahun. 


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Polemik Aturan Ketenagakerjaan Dalam RUU Cipta Kerja

    Perubahan aturan ketenagakerjaan menurut pemerintah harus dilakukan agar mengundang investasi.