Wakil Wali Kota Depok Minta Sekolah Tambah Pelajaran Agama

Reporter:
Editor:

Juli Hantoro

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Wali Kota Depok Mohammad Idris dan Wakil Wali Kota Depok Pradi Supriatna saat meresmikan alun-alun Kota Depok didampingi forkopimda, Minggu 12 Januari 2020. TEMPO/ADE RIDWAN

    Wali Kota Depok Mohammad Idris dan Wakil Wali Kota Depok Pradi Supriatna saat meresmikan alun-alun Kota Depok didampingi forkopimda, Minggu 12 Januari 2020. TEMPO/ADE RIDWAN

    TEMPO.CO, Jakarta - Pemerintah Kota Depok meminta sekolah-sekolah dapat menambah pemahaman tentang pelajaran agama. Sekolah juga diminta menginstruksikan siswa-siswinya untuk aktif mengikuti kegiatan yang bersifat kerohanian.

    Wakil Wali Kota Depok Pradi Supriatna mengatakan, kebijakan itu diberlakukan menyusul maraknya  tawuran yang mengakibatkan korbannya luka parah hingga meninggal beberapa hari lalu di Kota Depok.

    “Aspek religius atau yang menyentuh sisi spiritualitas si anak harus ditingkatkan, jadi kami mengimbau bisa ditambah pelajaran keagamaan yang aplikatif,” kata Pradi di sela kegiatannya, Rabu, 12 Februari 2020.

    Pradi mengatakan, pihak sekolah juga diminta merancang grand design pengembangan bakat para pelajar di luar jam sekolah semisal dengan pemetaan dan perencanaan yang konkret pada kegiatan ekstrakurikuler.

    “Setiap anak punya minat dan bakat yang berbeda, tinggal formulanya kita cari bersama. Saya yakin ketika semua saling kolaborasi, Insya Allah masalah tawuran bisa teratasi,” kata Pradi

    Pradi juga meminta pihak sekolah memperbanyak kegiatan di luar kelas guna menghindari siswa-siswi bosan dengan rutinitas ruang kelas setiap hari. “Perbanyak kegiatan di luar kelas, semisal di masjid atau majelis taklim. Ini pentingnya untuk memperkuat dan mengisi emosi serta spiritual pelajar,” kata dia.

    Politikus Partai Gerindra ini menambahkan, upaya persuasif dan kolaboratif antar pemerintah dengan sekolah diperlukan dalam mengatasi tawuran pelajar. Karena, Pradi menilai, persoalan kenakalan remaja yang terjadi belakangan ini berasal dari banyak aspek. Mulai dari personal siswa, lingkungan sekolah, hingga pengaruh eksternal.

    “Menyelesaikan tawuran atau kenakalan remaja tidak cukup dengan upaya parsial, tapi harus holistik, menyeluruh alias melibatkan semua pihak. Pemerintah, aparat, sekolah, orang tua murid, hingga para alumni sekolah,” kata Pradi

    Dengan demikian, ia berharap semua pihak ikut berperan aktif dalam menyelesaikan persoalan ini. “Semua pihak harus berembuk. Pemerintah sebagai regulator siap memfasilitasi. Ini harus segera dibereskan,” ujar Pradi.

    Sebelumnya, seorang pelajar Sekolah Menengah Atas inisial MN (17) harus meregang nyawa akibat luka di bagian leher dan kaki karena senjata tajam. MN tewas usai terlibat tawuran di Jalan Raya Mochtar, Sawangan, Kota Depok, Kamis 30 Januari 2020 malam sekitar pukul 19.00.

    Hanya berselang seminggu, dua orang siswa SMPN 8 inisial MC, 16 tahun dan FA (16) kritis akibat luka sabetan celurit yang dilakukan oleh pelajar lainnya.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    BPOM, Panduan Penerapan New Normal di Warung Makan

    BPOM memberi petunjuk mengenai penerapan new normal di berbagai tempat. Ada enam rekomendasi ikhwal tatanan baru ketika mengunjungi warung makan.