Greenpeace: Kualitas Udara Jakarta Masih Buruk Meski Musim Hujan

Reporter:
Editor:

Febriyan

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Warga memakai masker saat berjalan di kawasan Sudirman, Jakarta, Rabu, 17 Juli 2019. Organisasi lingkungan Greenpeace menyatakan kualitas udara Jakarta saat ini terpantau sangat tidak sehat dengan angka 165 AQI atau Indeks Kualitas Udara. TEMPO/Hilman Fathurrahman W

    Warga memakai masker saat berjalan di kawasan Sudirman, Jakarta, Rabu, 17 Juli 2019. Organisasi lingkungan Greenpeace menyatakan kualitas udara Jakarta saat ini terpantau sangat tidak sehat dengan angka 165 AQI atau Indeks Kualitas Udara. TEMPO/Hilman Fathurrahman W

    TEMPO.CO, JakartaKualitas udara Jakarta disebut tak kunjung membaik meskipun berada di musim hujan. Berdasarkan catatan, Greenpeace Indonesia, sepanjang Januari lalu rata-rata kualitas udara Jakarta berada di level moderat hingga tidak sehat.

    "Selama musim hujan kualitas udara Jakarta masih berpolusi," ujar Bondan Andriyanu, Juru Kampanye Energi Greenpeace Indonesia saat ditemui di Cikini, Jakarta Pusat, Rabu 12 Februari 2020.

    Bondang menyatakan, berdasarkan data Greenpeaces Indonesia dari stasiun pemantau udara Kedutaan Amerika Serikat, selama Januari rata-rata kualitas udara Jakarta level baik hanya terjadi pada satu hari pada 30 Januari dengan parameter polutan atau PM2.5 konsentrasi 0-12.0 ug/m3.

    Di kawasan Jakarta Selatan, pada Januari lalu tercatat terdapat tiga hari dengan rata-rata kualitas udara tidak sehat parameter polutan atau PM2.5 konsentrasi 55,5-150 ug/m3. Menurut Bondan kondisi tersebut karena pengedalian pencemaran udara belum maksimal.

    "Jika kualitas bagus itu hanya karena hujan turun, setelah itu polusi naik lagi," ujarnya.

    Sisanya rata-rata kualitas Jakarta berada di level moderat dengan parameter polutan atau PM2.5 konsentrasi 12,1-35,5 ug/m3, dan di level tidak sehat untuk kalangan sensitif parameter polutan atau PM2.5 konsentrasi 35,5-55,4 ug/m3.

    Hal tersebut juga terlihat dari pantuan kualitas udara Airvisual pada hari ini, di level tidak sehat, yakni 114 dari ambang batas 500, dengan parameter polutan atau PM2.5 konsentrasi 41 ug/m3. Jakarta berada di posisi 25 kota dengan udara paling kotor.

    Data Greenpeace Indonesia tersebut mematahkan asumsi Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan yang sempat menyatakan bahwa polusi di ibu kota terjadi karena musim kemarau. Pernyataan Anies tersebut menanggapi data dari Air Visual yang sempat menjadikan Jakarta sebagai kota dengan udara paling buruk di dunia pada Juli 2019.

    "Jadi dalam musim panas ini seperti juga tahun-tahun lalu kita kan menyaksikan kondisi di mana kualitas udara di Jakarta kondisinya kalau bisa dibilang polluted," ujar Anies.

    Selain itu, temuan Greenpeace Indonesia juga membantah klaim Pemerintah Provinsi DKI Jakarta soal membaiknya kualitas udara di ibu kota menyusul sejumlah kebijakan seperti perluasan aturan ganjil genap, penertiban cerobong asap, dan lain sebagainya.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Polemik Aturan Ketenagakerjaan Dalam RUU Cipta Kerja

    Perubahan aturan ketenagakerjaan menurut pemerintah harus dilakukan agar mengundang investasi.