Nasib Batu Alam di Monas yang Bakal Jadi Lintasan Trek Formula E

Reporter:
Editor:

Juli Hantoro

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Gambaran sirkuit Formula E di kawasan Monumen Nasional ditampilkan saat media briefing oleh PT Jakarta Propertindo di Hotel Novotel, Jakarta Pusat pada Jumat, 14 Januari 2020. Tempo/M Yusuf Manurung

    Gambaran sirkuit Formula E di kawasan Monumen Nasional ditampilkan saat media briefing oleh PT Jakarta Propertindo di Hotel Novotel, Jakarta Pusat pada Jumat, 14 Januari 2020. Tempo/M Yusuf Manurung

    TEMPO.CO, Jakarta - Pembuatan sirkuit balapan Formula E akan berdampak pada nasib batu alam atau cobble stone yang ada di kawasan Monas. Direktur Utama PT Jakarta Propertindo atau Jakpro, Dwi Wahyu Daryoto mengatakan pihaknya memiliki dua opsi untuk nasib cobble stone tersebut.

    "Pertama, cobble stone kita angkat dan kemudian kita overlay (lapisi) dengan aspal," ujar Dwi di Hotel Novotel, Jakarta Pusat, Jumat, 14 Februari 2020.

    Monas dipadati oleh para pengunjung dari berbagai daerah, dalam waktu setengah hari sudah terdata 8 ribu pengunjung yang datang.

    Pilihan kedua, kata Dwi, adalah melapisi cobble stone dengan aspal. Pilihan ini membuat batu alam yang selama ini menjadi lantai Monas tidak perlu dibongkar. Menurut dia, aspal yang akan digunakan sesuai dengan standar dari Federation Internationale de l'Automobile (FIA) atau Federasi Otomotif Internasional yang menaungi ajang balap Formula E yaitu Grade 3.

    "Kalau saya pribadi, berharap aspal itu dipermanenkan saja, jangan dikelupas lagi," ujar Dwi.

    Menurut Dwi, estimasi pengerjaan pengaspalan antara dua sampai tiga bulan. Aspal akan digunakan di titik yang diperuntukkan jalur trek, tribun, pit dan paddock. Ajang balapan mobil listrik itu sendiri rencananya berlangsung pada 6 Juni mendatang.

    Sirkuit Formula E di Monas dicanangkan memiliki panjang 2,5 kilometer. Balapan akan berputar searah jarum jam dan memiliki 12 tikungan. Yaitu, delapan tikungan ke kanan dan 4 tikungan ke kiri.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Polemik Aturan Ketenagakerjaan Dalam RUU Cipta Kerja

    Perubahan aturan ketenagakerjaan menurut pemerintah harus dilakukan agar mengundang investasi.