Guru Pukul Murid di SMA Bekasi Buka Suara Soal Tindakannya

Reporter:
Editor:

Clara Maria Tjandra Dewi H.

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ilustrasi pemukulan dengan ikat pinggang. shutterstock.com

    Ilustrasi pemukulan dengan ikat pinggang. shutterstock.com

    TEMPO.CO, Bekasi - Idianto, guru pukul murid di SMA Negeri 12 Bekasi, akhirnya buka suara tentang alasannya memukul siswanya karena terlambat masuk sekolah. Video guru pukul murid itu viral di media sosial sehingga Idianto dicopot dari jabatannya sebagai Wakil Kepala Sekolah Bidang Kesiswaan.      

    "Saya cuma berusaha menjadi guru yang menjaga tujuan besar mendidik," kata Idianto lewat pesan whatsapp pada Senin, 17 Februari 2020.

    Adapun peristiwa pemukulan terhadap dua anak didiknya pada Selasa pagi pekan lalu, Idianto menganggap hal ituadalah sebuah "kecelakaan" dalam menjalankan tugas.

    Beragam respons publik setelah video pemukulan itu viral. Namun, siswanya, kata dia, memiliki sikap sendiri. "Publik bisa lihat bagaimana anak-anak merespons isu-isu yang berseliweran dengan menggelar demo spontan di sekolah Kamis lalu," katanya.

    Selain berunjuk rasa membela Idi, para murid juga membuat petisi agar guru viral itu  tak dimutasi ke sekolah lain serta tetap mengajar di SMA Negeri 12 Bekasi.

    Dalam keterangannya, pembuat petisi menyebut guru Idi adalah sosok yang tegas dan disiplin. Berani menggunakan cara-cara yang dianggap kekerasan demi tegaknya aturan-aturan yang berlaku.

    Guru pukul murid yang viral itu enggan berkomentar lebih jauh perihal ancaman sanksi lain setelah dicopot dari jabatannya sebagai wakil kepala sekolah bidang kesiswaan. Ia mengaku ingin melunasi 'utang' sebelum pensiun sebagai tenaga pendidik yang mengabdi di sekolah itu sejak 2005. "Sebagai pendidik saya masih utang dalam hal membangun karakter peserta didik, mungkin tidak semua dari 18 karakter bangsa Indonesia," kata Idi.

    ADI WARSONO


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Wabah Virus Corona Datang, 13.430 Narapidana Melenggang

    Menteri Hukum dan HAM Yasonna Laoly memutuskan pembebasan sejumlah narapidana dan anak demi mengurangi penyebaran virus corona di penjara