Sindiran Dewi Tanjung Soal Banjir Berjilid ke Anies Baswedan

Reporter:
Editor:

Martha Warta Silaban

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan bersama jajarannya meninjau Rumah Pompa Jati Pinggir 1, Jakarta Pusat, 25 Februari 2020. Tempo/Imam Hamdi

    Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan bersama jajarannya meninjau Rumah Pompa Jati Pinggir 1, Jakarta Pusat, 25 Februari 2020. Tempo/Imam Hamdi

    TEMPO.CO, Jakarta - Politikus PDIP Dewi Tanjung melemparkan sindiran soal musibah banjir yang melanda Jakarta dalam beberapa waktu atau berjilid-jilid di era Gubernur DKI Anies Baswedan.  

    "Biasanya kan demo yang berjilid-jilid, kalau ini kebalik, banjirnya berjilid-jilid," ujar Dewi Tanjung di Polda Metro Jaya, Jakarta Selatan, Rabu, 26 Februari 2020. 

    Adapun yang dimaksud dengan demo berjilid-jilid, yakni merujuk pada demonstrasi seperti 411 dan 212 yang digelar oleh ormas Islam.

    Tak cuma itu, Dewi juga menyindir pernyataan Anies Baswedan yang pernah menyebut air hujan seharusnya dimasukkan ke dalam tanah, bukan langsung dialirkan melalui gorong-gorong. Sebab, tindakan itu, kata Anies, merupakan perbuatan melawan sunatullah.

    Menurut Dewi, air yang tak masuk ke dalam gorong-gorong sehingga menyebabkan banjir karena takut melawan sunatullah. "Pasukan air yang turun dari langit antre tidak masuk ke gorong-gorong, kan kalau masuk katanya melawan sunatullah," ujar Dewi.

    Rabu sore ini, polisi memeriksa Dewi Tanjung terkait laporannya kepada pendukung Anies Baswedan pada Januari 2020. Dewi melaporkan para pendukung Anies itu karena melemparinya dengan botol serta meneriaki kata-kata kasar. 

    Dewi Tanjung menjalani pemeriksaan di Direktorat Kriminal Umum Polda Metro Jaya sekitar 2 jam. Ia mengatakan mendapat 20 pertanyaan dari penyidik tentang kejadian itu.

    Salah satu pihak yang Dewi laporkan adalah seseorang dari Organisasi Masyarakat Bang Japar. Menurut dia, koordinator massa aksi tandingan untuk mengawal Anies Baswedan di Balai Kota saat itu berasal dari anggota Bang Japar.

    Awal mula kericuhan itu terjadi saat Dewi Tanjung cs menggelar unjuk rasa di depan Balai Kota, Jakarta Pusat, 14 Januari 2020. Dalam tuntutannya, mereka meminta Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan mundur karena dinilai tak becus menangani banjir awal tahun 2020.

    Dalam demonstrasi tersebut, muncul massa tandingan yang membela Anies Baswedan di Balai Kota. Kedua massa sempat saling ejek satu sama lain. "Kan mereka di sana, di depan Balai Kota ramai-ramai lempari kami, teriaki kami," ujar Dewi Tanjung. 


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Cara Memberlakukan Kebijakan Pembatasan Sosial Berskala Besar

    Presiden Joko Widodo telah menandatangai PP No 21 Tahun 2020 yang mengatur pelaksanaan Pembatasan Sosial Berskala Besar menghadapi virus corona.