Begini Penumpang KRL Khawatir Penularan Virus Corona di Gerbong

Reporter:
Editor:

Dwi Arjanto

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Petugas saat melakukan sosialisasi pencegahan virus Corona atau Covid-19 di Stasiun Depok, Kota Depo, Jawa Barat, Jumat, 6 Maret 2020. PT KAI Daop 1 Jakarta melakukan sosialisasi pencegahan penyebaran Corona atau Covid-19 dengan menghadirkan Rail Clinic atau kereta kesehatan serta memberikan pengecekan kesehatan gratis, membagikan masker, pamflet, menyediakan hand sanitizer, sosialisasi perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS), dan edukasi seputar virus corona. TEMPO/M Taufan Rengganis

    Petugas saat melakukan sosialisasi pencegahan virus Corona atau Covid-19 di Stasiun Depok, Kota Depo, Jawa Barat, Jumat, 6 Maret 2020. PT KAI Daop 1 Jakarta melakukan sosialisasi pencegahan penyebaran Corona atau Covid-19 dengan menghadirkan Rail Clinic atau kereta kesehatan serta memberikan pengecekan kesehatan gratis, membagikan masker, pamflet, menyediakan hand sanitizer, sosialisasi perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS), dan edukasi seputar virus corona. TEMPO/M Taufan Rengganis

    TEMPO.CO, Jakarta -Penumpang KRL Commuter Jabodetabek mengaku khawatir dengan potensi penularan virus Corona di gerbong kereta yang mereka tumpangi.

    Penumpang asal Depok, Arif Rahman, 49 tahun, misalnya mengaku khawatir terhadap potensi penularan COVID-19 alias virus Corona di dalam stasiun dan gerbong-gerbong KRL.

    "Sebab, setiap hari ratusan ribu orang naik kereta dan berdesak-deskan di dalamnya," kata Arif saat ditemui di Stasiun Gondangdia, Jakarta Pusat, Kamis, 12 Maret 2020.

    Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan mengungkap resiko penularan virus Corona di KRL rute Bogor/Depok-Jakarta Kota. Data tersebut diakaji berdasarkan sebaran orang pengawasan pemantaun penularan kasus Covid 19.

    Data internal Pemprov DKI yang membahasan potensi penyebaran Covid 19 tersebut beredar luas. Salah satunya terkait penjelasan resiko kontaminasi terbesar terjadi di wilayah KRL II rute Bogor/Depok-Jakarta Kota.

    "Kami kan memiliki data sebaran orang-orang dalam pemantauan, data pasien virus Corona dalam pengawasan, dari situ kemudian dibentuk petanya," ujar Anies Baswedan saat ditemui di Balai Kota, Jakarta Pusat, Rabu 11 Maret 2020.

    Menurut Arif, potensi risiko penularan corona di transportasi publik diperkirakan bakal mempengaruhi psikologi penumpang. Namun, sejauh ini, Arif belum melihat adanya penurunan jumlah penimpang yang menggunakan KRL.

    "Akrivitas penumpang yang menggunakan KRL belum berpengaruh. Memang ada sedikit kekhawatiran."

    Pemerintah pusat maupun daerah hingga hari ini masih terus memberikan sosialisasi terkait bahaya corona. Selain itu, setiap transportasi publik juga telah menyediakan hand sanitizer kepada penumpang di setiap stasiun. "Sosialisasi melalui pengeras suara juga saya dengar setiap hari ada."

    Menurut dia, pencegahan corona di transportasi publik bisa dilakukan. Sebab, para penumpang transportasi publik kini juga mulai menjaga kebersihan dan mengingatkan orang yang sakit. "Antisipasi anterpersonal sudah dilakukan."

    Penumpang lainnya, Wiwik Widyasari, 27 tahun, mengaku sangat khawatir dengan potensi penularan virus mematikan asal Wuhan, Cina itu. Sebab, wanita asal Bekasi itu, selalu menggunakan KRL sebagai transportasi umum setiap berangkat maupun pulang kerja. "Jadi sangat khawatir. Saya harap psncegahannya bisa maksimal," ujarnya.

    Pantauan Tempo sebagian penumpang KRL di dalam gerbong telah menggunakan masker, sebagai antisipasi penularan Corona. Selain itu, PT KCI juga sudah menyediakan hand sanitizer di pintu masuk maupun keluar stasiun. Namun, PT KCI belum memeriksa suhu tubuh para penumpang yang masuk maupun keluar stasiun.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    BPOM, Panduan Penerapan New Normal di Warung Makan

    BPOM memberi petunjuk mengenai penerapan new normal di berbagai tempat. Ada enam rekomendasi ikhwal tatanan baru ketika mengunjungi warung makan.