Komnas PA Soal Pembunuhan Anak: Aksi Sadis NF Tak Berdiri Sendiri

Reporter:
Editor:

Dwi Arjanto

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Sejumlah karakter fiksi horor yang dibuat oleh tersangka pembunuhan anak dalam gelar perkara di Mapolrestro Jakarta Pusat, Sabtu, 7 Maret 2020 (Foto: Antara)

    Sejumlah karakter fiksi horor yang dibuat oleh tersangka pembunuhan anak dalam gelar perkara di Mapolrestro Jakarta Pusat, Sabtu, 7 Maret 2020 (Foto: Antara)

    TEMPO.CO, Jakarta -Ketua Komisi Nasional Perlindungan Anak, Arist Merdeka Sirait mengatakan akan menemui remaja pelaku pembunuhan anak berinisial NF di Rumah Sakit Polri Kramatjati siang ini.

    Dia mengaku diminta penyidik untuk melakukan assesment terhadap NF. "Setelah itu kita akan memberikan rekomendasi, apa yang patut dilakukan penyidik dalam menangani kasus (pembunuhan anak) tersebut," kata Arist di Polda Metro Jaya pada Kamis, 12 Maret 2020.

    Walau belum bertemu langsung dengan NF, Arist coba menyampaikan analisanya tentang tindakan sadistis remaja perempuan berumur 14 tahun itu. Berdasarkan pengalamannya mendampingi anak, Arist menganggap bahwa tindakan NF tidak berdiri sendiri. Ada sejumlah faktor yang ikut berkontribusi.

    Faktor pertama adalah dugaan kesalahan dalam pengasuhan. Dari pemeriksaan di awal oleh penyidik, kata Arist, ditemukan gambar-gambar hasil karya NF yang banyak menyebut tentang ayahnya. Seperti diketahui, NF juga tinggal bersama ayah dan ibu tirinya.

    "Seperti kehilangan kerinduan," ujar Arist.

    Faktor selanjutnya menurut Arist adalah kondisi mental dan kejiwaan. Menurut dia, NF mengalami gangguan bahkan mengarah kepada psikopat. Beberapa ciri-cirinya yang menguatkan dugaan ini, ujar Arist yaitu bahwa NF memiliki gambar yang menyebutkan sasarannya untuk berbuat sadistis. NF juga mulai mengejar kecoa dan binatang kecil lainnya.

    "Psikopatnya sendiri terlihat pada adik temannya yang dibenamkan dalam bak, korban dipancing dengan mainan. Itu adalah strategi dia (pelaku). Kemudian korban ditutup dengan pakaian bekas dan disimpan. Tidak ada rasa menyesal dari pelaku," kata Arist

    Selain pengasuhan dan kondisi mental, Arist juga menyinggung soal pengaruh penggunaan gadget dan tontonan berbau kekerasan yang dilihat pelaku secara berkala. Tontonan yang menunjukkan adegan kekerasan disebut bisa berpengaruh terhadap tindakan anak.

    "Dunia anak adalah dunia yang mengimitasi," kata Arist.


     

     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Dari Alpha sampai Lambda, Sebaran Varian Delta dan Berbagai Varian Covid-19

    WHO bersama CDC telah menetapkan label baru untuk berbagai varian Covid-19 yang tersebar di dunia. Tentu saja, Varian Delta ada dalam pelabelan itu.