Anies Baswedan: 50 Tenaga Medis Positif Corona, 2 Meninggal

Reporter:
Editor:

Martha Warta Silaban

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Aktivitas petugas berpakaian APD di Rumah Sakit Darurat Penanganan COVID-19 di Wisma Atlet Kemayoran, Jakarta, Rabu, 25 Maret 2020. TEMPO/Muhammad Hidayat

    Aktivitas petugas berpakaian APD di Rumah Sakit Darurat Penanganan COVID-19 di Wisma Atlet Kemayoran, Jakarta, Rabu, 25 Maret 2020. TEMPO/Muhammad Hidayat

    TEMPO.CO, Jakarta- Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan mengatakan hingga saat ini 50 orang tenaga medis di Jakarta terjangkit Covid 19 atau virus Corona selama bertugas, dan dua meninggal.

    "Seperti kita ketahui jumlah tim medis yang terpapar di Jakarta mencapai 50 orang dan ada dua orang yang meninggal," ujar Anies Baswedan dalam konferensi pers daring di Balai Kota, Kamis 26 Maret 2020.

    Anies mengatakan jumlah tim medis yang terpapar tersebut menggambarkan tingginya resiko penyebaran virus Corona bagi petugas kesehatan. Anies mengatakan 50 orang tim medis yang terpapar virus Corona tersebar di 24 rumah sakit.

    Sehingga, kata dia, perlindungan kepada tenaga medis mutlak diperlukan. DKI kata dia telah menyiapkan alat kelengkapan diri (APD) untuk seluruh tenaga medis yang bertugas.

    Selain itu lanjur Anies, saat ini rapid tes atau pemeriksaan cepat diprioritaskan bagi tenaga medis. "Rapid test pertama diprioritaskan sehingga mereka memiliki rasa tenang jika ada gejala awal cepat bisa ditangani," ujarnya.

    Ia mengatakan DKI telah menyediakan fasilitas tempat tinggal kepada tenaga medis agar bisa istirahat dengan nyaman. Sebanyak empat hotel milik BUMD DKI sebagai tempat tinggal sementara bagi tenaga medis.

    Anies menyebutkan di hotel tersebut tenaga medis corona akan dilayani, semua kebutuhan juga akan dipenuhi. DKI juga menyiapkan bus Transjakarta untuk antar jemput petugas dari hotel dan rumah sakit.

     


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Wabah Virus Corona Datang, 13.430 Narapidana Melenggang

    Menteri Hukum dan HAM Yasonna Laoly memutuskan pembebasan sejumlah narapidana dan anak demi mengurangi penyebaran virus corona di penjara