Corona, Harga Sembako Masih Stabil di Pasar Tradisional

Reporter:
Editor:

Juli Hantoro

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ilustrasi pedagang beras. REUTERS/Kham

    Ilustrasi pedagang beras. REUTERS/Kham

    TEMPO.CO, Jakarta - Selama masa tanggap darurat corona, para pedagang di sejumlah pasar di Ibu Kota melayani pesanan secara daring. Sejumlah komoditas disebut masih tetap laris di tengah masa pandemi, namun sebagian lainnya mengalami penurunan drastis.

    Salah satu komoditas yang penjualannya tetap stabil adalah sembako. Pedagang sembako di Pasar Slipi, Suprapti mengakuinya. Tidak ada perubahan berarti dalam segi pendapatan sebelum dan saat pandemi.

    "Sampai sekarang masih stabil. Baik yang beli secara langsung maupun yang lewat telepon, banyak," kata dia kepada Tempo, Kamis, 2 April 2020.

    Selain dari segi jumlah pembeli, Suprapti mengatakan bahwa harga sembako juga cenderung stabil. Menurut dia, tidak ada kenaikan harga sembako mencapai dua kali lipat. "Contohnya beras, sekilonya masih di harga Rp 10 ribu sampai Rp 15 ribu," kata dia.

    Komoditas lain yang tetap stabil adalah buah. Menurut pedagang buah di Pasar Pulogadung, Selamet, jumlah pembeli malah bertambah selama masa darurat corona. Namun, kata dia, pembeli saat ini kebanyakan bukan pelanggan melainkan orang baru.

    "Mungkin untuk kebutuhan vitamin," kata Selamet.

    Selain naik dari sisi jumlah pembeli, Selamet berujar bahwa harga buah juga naik. Menurut dia, kenaikan itu sudah ada di level distributor. Sehingga para pedagang disebut juga menaikkan harga ke pembeli.

    "Jadi di kitanya sudah rebutan juga," kata dia.

    Sedangkan contoh komoditas pasar yang mengalami penurunan pembelian adalah ayam potong. Menurut pedagang ayam di Pasar Rumput, Salam, jumlah pendapatannya saat pandemi corona menurun sekitar 65 persen.

    "Karena kebanyakan kan saya layani catering dan rumah makan. Nah sekarang pada libur, jadi ya otomatis ikut berkurang pendapatan," kata dia.

    Menurut Salam, dirinya saat ini kebanyakan hanya melayani kebutuhan rumah tangga. Hampir seluruh langganan rumah makan dan catering sudah tidak ada yang memesan ayam selama corona.

    Komoditas lainnya yang mengalami penurunan selama masa darurat corona adalah bumbu dapur. Pedagang bumbu di Pasar Kedoya, Elli mengalami penurunan pendapatan lantaran banyak pelanggannya adalah usaha Warteg. "Jadi terpengaruh juga," kata dia.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    BPOM, Panduan Penerapan New Normal di Warung Makan

    BPOM memberi petunjuk mengenai penerapan new normal di berbagai tempat. Ada enam rekomendasi ikhwal tatanan baru ketika mengunjungi warung makan.