Kisah Asa Penjahit Pasar Baru Ingin Pasar Tetap Buka Selama PSBB

Reporter:
Editor:

Dwi Arjanto

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Suasana  kawasan perdagangan Pasar Baru, Jakarta, Selasa, 24 Maret 2020. Sebagian pemilik toko di pusat perdagangan yang berdiri sejak 1820 tersebut memilih menutup usahanya sementara waktu untuk mengantisipasi meluasnya penyebaran virus corona (COVID-19). ANTARA/Aditya Pradana Putra

    Suasana kawasan perdagangan Pasar Baru, Jakarta, Selasa, 24 Maret 2020. Sebagian pemilik toko di pusat perdagangan yang berdiri sejak 1820 tersebut memilih menutup usahanya sementara waktu untuk mengantisipasi meluasnya penyebaran virus corona (COVID-19). ANTARA/Aditya Pradana Putra

    TEMPO.CO, Jakarta - Sejumlah penjahit di lantai dasar Metro Atom Pasar Baru, Jakarta Pusat, berharap pasar tidak ditutup selama pemberlakuan Pembatasan Sosial Berskala Besar alias PSBB di DKI Jakarta.

    "Ya selama pasar tidak ditutup kami tetap akan buka, karena kalau pasar juga ditutup kami mau dapat penghasilan dari mana?," kata Uni Ayii, 51 tahun, salah satu penjahit di Metro Atom Pasar Baru, Kamis, 9 April 2020, terkait PSBB yang bakal berlaku mulai esok dinihari.

    Uni Ayi mengatakan, ada sekitar 100 penjahit berkios di Metro Atom Pasar Baru. Lantai dasar tersebut menyatu dengan pasar yang menjual aneka kebutuhan pokok seperti beras, sayuran dan pedagang makanan lainnya.

    Menurut dia, walau ada penerapan PSBB dan pasar tidak ditutup, penjahit akan tetap membuka kios untuk mendapatkan penghasilan.

    Sejak adanya pandemi COVID-19 awal Maret 2020, sejumlah penjahit sudah ada yang menutup kiosnya selama hampir dua pekan.

    Sebagian besar penjahit memilih pulang ke kampung halamannya untuk sementara waktu karena berkurangnya pesanan jahitan. Namun sejumlah penjahit masih bertahan tetap buka sejak awal hingga menjelang PSBB diberlakukan.

    "Hampir sebagian besar tutup, mereka pulang kampung cuma ada empat penjahitlah yang masih buka, saya salah satunya," kata Uni Ayi yang sudah empat membuka kios jahit di Metro Atom.

    Sebagai pekerja yang mengandalkan pendapatan harian, Uni Ayi mengaku kesulitan jika sampai usaha jahitnya ditutup selama PSBB.

    Hal ini karena dirinya tidak punya penghasilan selain menjahit pesanan. Walau jahitan sedang sepi, tapi Uni Ayi optimistis ada rezeki yang bisa dibawa pulang jika tetap bisa membuka kios.

    "Biasanya sebelum Ramadhan itu saya sudah penuh pesanan jahitan, tapi sekarang satupun belum ada," kata wanita asal Sumatera Barat itu.

    Hal senada juga disampaikan rekan Uni Ayi bernama Angga (40) yang sudah delapan tahun menjahit di Metro Atom Pasar Baru.

    Angga berharap pasar tetap buka sehingga para penjahit tetap bisa mendapatkan penghasilan walau jumlahnya tidak sebanyak waktu sebelum COVID-19 mewabah.

    "Ya kalau kita tidak buka, gimana kita bisa dapatkan penghasilan. Kebutuhan jalan terus, apalagi uang sewa kios juga jalan," katanya.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    BPOM, Panduan Penerapan New Normal di Warung Makan

    BPOM memberi petunjuk mengenai penerapan new normal di berbagai tempat. Ada enam rekomendasi ikhwal tatanan baru ketika mengunjungi warung makan.