Hari Pertama PSBB, Pelanggan Masih Makan di Warteg

Reporter:
Editor:

Juli Hantoro

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Warteg dan rumah makan masakan Padang yang masih beroperasi di Jalan Kyai Haji Syahdan, Kemanggisan, Jakarta Barat, Jumat, 10 April 2020. Tempo/M Yusuf Manurung

    Warteg dan rumah makan masakan Padang yang masih beroperasi di Jalan Kyai Haji Syahdan, Kemanggisan, Jakarta Barat, Jumat, 10 April 2020. Tempo/M Yusuf Manurung

    TEMPO.CO, Jakarta - Hari pertama penerapan Pembatasan Sosial Berskala Besar atau PSBB di Jakarta, sejumlah orang tampak masih makan di warung tegal dan warung kopi. Saat Tempo menelusuri sekitar 350 meter Jalan Kyai Haji Syahdan, Kemanggisan, Jakarta Barat, ditemukan 3 warteg dan satu rumah makan Padang yang beroperasi di kawasan Universitas Bima Nusantara (Binus) itu.

    Di Warteg Momoka Bahari sekitar pukul 11.00 yang ada di Jalan tersebut, Tempo melihat ada tiga orang yang masih terlihat makan. Sementara di Warteg Biru, ada dua orang yang sedang menyantap makanan.

    Sedangkan di Warteg Sederhana dan Rumah Makan Putra Minang, Tempo melihat belum ada pengunjung yang datang pada siang itu. Bergeser ke jalan yang lebih kecil yakni Jalan U, terlihat masih banyak warga yang makan di warung kopi bernama Pass Cafe.

    Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan telah melarang masyarakat untuk menyantap makanan langsung di restoran. Larangan tersebut diatur dalam Peraturan Gubernur Nomor 33 tahun 2020 tentang PSBB.

    "Tidak diizinkan untuk makan atau menyantap makanan di lokasi. Semua makanan diambil, dibawa. Tidak ada dine-in, take away, bisa menggunakan delivery atau datang ke warung dan dibungkus, dibawa," ujar Anies dalam konferensi pers, Kamis malam, 9 April 2020.

    Anies mengatakan restoran atau sejenisnya mendapat pengecualian selama PSBB dengan tetap diizinkan berkegiatan. Namun, Anies memberikan batasan layanan, termasuk melarang memakan makanan di restoran untuk mengurangi interaksi antar-orang.

    Selain itu, Anies juga meminta restoran dan sejenisnya untuk memperhatikan jarak jika terjadi antrean pembelian dengan memberlakukan physical distancing. Anies juga mengingatkan pihak restoran dan sejenisnya untuk menyediakan tempat cuci tangan dan hand sanitizer. Dia meminta restoran atau rumah makan mengedepankan prinsip hiegenitas.

    "Menyediakan alat bantu seperti sarung tangan dan penjepit makanan untuk meminimalkan kontak langsung dengan makanan siap saji dalam proses persiapan, pengolahan dan penyajian," ujar Anies.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    BPOM, Panduan Penerapan New Normal di Warung Makan

    BPOM memberi petunjuk mengenai penerapan new normal di berbagai tempat. Ada enam rekomendasi ikhwal tatanan baru ketika mengunjungi warung makan.