Sidang Aktivis Papua Digelar Secara Online

(Dari kiri) Tersangka makar Issay Wenda, Charles Kossay, Arina Elopere, Surya Anta, Ambrosius Mulait dan Dano Tabuni mengepalkan tangan saat menunggu dimulainya sidang dakwaan di Pengadilan Negeri Jakarta Pusat, Jakarta, Kamis 19 Desember 2019. Surya Anta dan kelima temannya ditangkap polisi karena pengibaran bendera Bintang Kejora saat unjuk rasa di depan Istana Negara Jakarta pada 28 Agustus 2019. ANTARA FOTO/Nova Wahyudi

TEMPO.CO, Jakarta - Sidang aktivis Papua akan digelar secara online atau jarak jauh di tengah penerapan pembatasan sosial berskala besar atau PSBB Jakarta. Keenam aktivis dijadwalkan membacakan pembelaan alias pledoi dalam sidang lanjutan di Pengadilan Negeri Jakarta Pusat, Senin, 13 April 2020.

Kuasa hukum, Michael Himan, menyebut para terdakwa menjalani sidang di rumah tahanan. "Para terdakwa di rumah tahanan. Yang akan hadir (di ruang sidang) penasehat hukum, jaksa, dan hakim," kata Michael saat dihubungi, Ahad malam, 12 April 2020.

Enam terdakwa itu antara lain Paulus Suryanta Ginting, Charles Kossay, Ambrosius Mulait, Isay Wenda, Anes Tabuni dan Arina Elopere. Mereka ditangkap polisi karena mengibarkan bendera Bintang Kejora saat unjuk rasa menuntut referendum di depan Istana Merdeka pada 28 Agustus 2019.

Mekanisme sidang dugaan makar ini berubah setelah pandemi Corona melanda Indonesia, khususnya Jakarta. Tim kuasa hukum terdakwa sebelumnya meminta agar majelis hakim menunda sidang.

Akan tetapi majelis hakim menolak usulan itu. Mekanisme sidang pun diubah dengan format para terdakwa tetap berada di rumah tahanan. Menurut Michael, mekanisme sidang seperti diterapkan sejak Jumat, 27 Maret 2020.

Tak hanya pembacaan pledoi, sidang hari ini juga akan mendengarkan keterangan dari tiga ahli. "Benar sidang tapol (tahanan politik) dengan agenda membacakan pledoi dan akan keterangan ahli sekalian sesuai perjanjian sidang Jumat lalu," jelas Michael.

Sebelumnya, jaksa mendakwa Suryanta Cs dengan dua pasal alternatif, yaitu Pasal 106 KUHP juncto Pasal 55 ayat 1 ke-1 KUHP soal makar dan Pasal 110 ayat 1 KUHP ihwal permufakatan jahat. Jaksa menuntut mereka 1 tahun 5 bulan penjara. Tuntutan dibacakan pada Jumat, 3 April 2020.

LANI DIANA 






Kisah Trias yang Menjadi Guru Penggerak di Papua

8 Juli 2022

Kisah Trias yang Menjadi Guru Penggerak di Papua

Trias, salah satu guru penggerak di SMA Yayasan Pendidikan Kristen Diaspora Kotaraja, Jayapura, Papua menceritakan pengalamannya ketika mengajar.


Mabes Polri: Pimpinan Khilafatul Muslimin Ditangkap di Lampung

7 Juni 2022

Mabes Polri: Pimpinan Khilafatul Muslimin Ditangkap di Lampung

Pimpinan Khilafatul Muslimin Abdul Qodir Baraja ditangkap di Lampung oleh tim Polda Metro Jaya.


3 Pimpinan Khilafatul Muslimin Jadi Tersangka Dugaan Makar

7 Juni 2022

3 Pimpinan Khilafatul Muslimin Jadi Tersangka Dugaan Makar

Polda Jawa Tengah menjerat tiga pimpinan kelompok Khilafatul Muslimin yang bertanggung jawab atas pembagian pamflet pendirian khilafah.


Sultan Hamid II Perancang Lambang Negara Indonesia, Siapa Dia?

3 Juni 2022

Sultan Hamid II Perancang Lambang Negara Indonesia, Siapa Dia?

Sultan Hamid II perancang lambang negara Indonesia. Pada akhir kisah hidupnya, ia pernah dituduh makar dan dianggap bersekongkol dengan Westerling.


Munarman Dituntut 8 Tahun Penjara di Kasus Terorisme

14 Maret 2022

Munarman Dituntut 8 Tahun Penjara di Kasus Terorisme

Mantan Sekretaris Umum Front Pembela Islam Munarman dituntut 8 tahun penjara dalam kasus tindak pidana terorisme.


Setelah Vonis Azis Syamsuddin Mengaku akan Mundur dari Dunia Politik

31 Januari 2022

Setelah Vonis Azis Syamsuddin Mengaku akan Mundur dari Dunia Politik

Azis Syamsuddin mengatakan bahwa dunia politik adalah jati dirinya yang sebenarnya


Rieke Diah Pitaloka akan Temani Valencya yang Dituntut Usai Memarahi Suami Mabuk

18 November 2021

Rieke Diah Pitaloka akan Temani Valencya yang Dituntut Usai Memarahi Suami Mabuk

Rieke Diah Pitaloka akan mendampingi Valencya yang akan membacakan pledoi di Pengadilan Negeri Karawang hari ini.


Bukti Baru Kasus Teror Rumah Veronica Koman

13 November 2021

Bukti Baru Kasus Teror Rumah Veronica Koman

Polres Metro Jakarta Barat juga masih menunggu hasil Puslabfor terhadap pemeriksaan bahan peledak di rumah orang tua Veronica Koman.


Bercak Merah dalam Ledakan di Rumah Orang Tua Veronica Koman Adalah Cat

8 November 2021

Bercak Merah dalam Ledakan di Rumah Orang Tua Veronica Koman Adalah Cat

Selain ledakan, secarik kertas berisi ancaman juga ditemukan di rumah orang tua Veronica Koman.


Dugaan Sementara Polisi soal Ledakan di Rumah Orang Tua Veronica Koman: Petasan

8 November 2021

Dugaan Sementara Polisi soal Ledakan di Rumah Orang Tua Veronica Koman: Petasan

Jenis ledakan di rumah orang tua aktivis HAM, Veronica Koman, belum disampaikan polisi. Bahan peledak masih diuji di laboratorium forensik.