Hari Kartini: Ini Perjuangan 3 Perempuan Melawan Corona

Reporter:
Editor:

Aditya Budiman

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ketua Kelompok Kerja (Pokja) Penyakit Infeksi, New Emerging dan Re-Emerging RSPI Sulianti Saroso, Pompini Agustina Sitompul (keempat dari kanan), berpose bersama anggota di ruang kerja. (Foto: Antara)

    Ketua Kelompok Kerja (Pokja) Penyakit Infeksi, New Emerging dan Re-Emerging RSPI Sulianti Saroso, Pompini Agustina Sitompul (keempat dari kanan), berpose bersama anggota di ruang kerja. (Foto: Antara)

    TEMPO.CO, Jakarta - Pandemi Corona telah menjadi medan pertempuran bagi lapisan masyarakat. Perempuan, khususnya ibu rumah tangga yang mempunyai peran ganda sebagai tenaga kesehatan di Jakarta mempunyai peran penting dalam penanggulangan virus Corona.

    Kepala Seksi Surveilans Epidemiologi dan Imunisasi Dinas Kesehatan Provinsi DKI Jakarta, Ngabila Salama, mengatakan saat ini semua pihak harus saling bahu membahu. "Jangan egois karena semua ini tidak bisa dikerjakan sendirian," ujar Ngabila, Senin, 20 April 2020.

    Ngabila merupakan dokter yang terlibat langsung di tengah pandemi Corona di Jakarta. Bukan perkara gampang bagi ibu rumah tangga yang kini mengemban tugas sebagai Case Manager COVID-19. Salah satu tugas utamanya adalah memutuskan sampel yang harus diuji lebih dahulu berdasarkan skala prioritas dan dampak kasus.

    Hal tersebut dilakukan karena berbagai provinsi harus berbagi laboratorium penunjang di Balai Penelitian dan Pengembangan Kesehatan (Litbangkes) Kementerian Kesehatan. Tugas Ngabila ialah melakukan pengujian massal dengan metode rapid test untuk menjangkau sampel yang lebih luas dengan hasil relatif cepat. "Upaya ini menjadi langkah tepat pemerintah sehingga saya dan tenaga medis dapat mengambil langkah antisipasi dan bekerja lebih maksimal," ujarnya.

    Sejak kasus pertama COVID-19 di Indonesia ditemukan, kata Ngabila, ia mengurus berbagai hal terkait penanganan Corona. "Handphone saya hampir 24 jam berdering selama bersiaga di depan komputer," katanya.

    Kepala Seksi Surveilans Epidemiologi dan Imunisasi Dinas Kesehatan Provinsi DKI Jakarta, Ngabila Salama, berpose di ruang kerja. (Foto: Antara)

    Beragam tantangan harus dihadapi dan salah satunya ialah risiko terpapar virus yang hingga kini belum ditemukan vaksinnya. Sejumlah tenaga medis di Puskesmas dan rumah sakit di Jakarta telah terpapar. Data yang dihimpun Ikatan Dokter Indonesia (IDI) pada Sabtu, 18 April 2020 tidak kurang dari 24 dokter gugur setelah bekerja dan menangani pasien COVID-19 di Indonesia. Di saat bersamaan ada sekitar 80 petugas kesehatan dilaporkan terpapar virus Corona.

    Ngabila optimistis tantangan bisa teratasi dengan kerja sama tim, strategi, pengaturan logistik, pelaksanaan pengujian, dan dukungan keluarga. Ia berpesan agar para ibu rumah tangga turut berperan mengedukasi keluarga untuk tetap berada di rumah. "Yakinkan saat ini rumah adalah tempat terbaik," katanya.


     

     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    7 Tips Agar Lebih Mudah Bangun Sahur Selama Ramadan

    Salah satu tantangan selama puasa Ramadan adalah bangun dini hari untuk makan sahur.