Survei KedaiKOPI: Antisipasi Corona Warga Jabodetabek Rendah

Reporter:
Editor:

Aditya Budiman

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Penumpang menunggu kedatangan Kereta KRL Commuterline di Stasiun Manggarai, Jakarta, Senin, 20 April 2020. Saat ini PSBB telah berlaku di wilayah Jabodetabek. TEMPO/Hilman Fathurrahman W

    Penumpang menunggu kedatangan Kereta KRL Commuterline di Stasiun Manggarai, Jakarta, Senin, 20 April 2020. Saat ini PSBB telah berlaku di wilayah Jabodetabek. TEMPO/Hilman Fathurrahman W

    TEMPO.CO, Jakarta - Lembaga Survei Kelompok Diskusi dan Kajian Opini Publik Indonesia (KedaiKOPI) mengatakan warga Jabodetabek mempersepsikan penerapan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) efektif, khususnya terkait pembatasan moda transportasi. Hal itu didapat dari survei yang diselenggarakan pada 14-19 April 2020 dengan mewawancarai 405 responden yang merespons dari 2.324 data panel responden di Jabodetabek.

    "Publik Jabodetabek mempersepsikan penerapan PSBB sebagai hal yang efektif," kata Direktur Eksekutif Lembaga Survei KedaiKOPI, Kunto Adi Wibowo dalam keterangan tertulis, Kamis, 23 April 2020. Ia menyebut poin pembatasan transportasi dengan rata-rata tertinggi mencapai 8.7 dan pembatasan kegiatan keagamaan mencapai rata-rata terendah 8.0.

    Meski begitu, ketika ditanya antisipasi penyebaran wabah Corona, upaya yang telah dilakukan publik tergolong rendah. Pertanyaan yang disampaikan bersifat terbuka dan diperkenankan menjawab lebih dari satu.

    Adapun tiga besar upaya yang sudah responden lakukan, yaitu rajin cuci tangan (32,6 persen), di rumah saja (25,7 persen), dan menggunakan masker (25,4 persen). “Top of Mind ketika mereka ditanyakan menunjuk rajin cuci tangan sebagai aktivitas yang paling mereka lakukan, dan itu hanya 32,6 persen. Hal ini menunjukkan tindakan untuk pengantisipasian di level personal masih rendah,” ucap Kunto.

    Berdasarkan survei tersebut, angka responden Jabodetabek yang mempercayai bahwa masyarakat Indonesia kebal Covid-19 tergolong rendah, yaitu 7,4 persen setuju, sementara sisanya, 92,6 persen, tidak setuju. Presentasi ketidaksetujuan itu, kata Kunto, lebih tinggi dibanding survei persepsi publik tentang Corona yang mereka selenggarakan pada 3-4 Maret 2020.

    “Pada telesurvei Maret, hanya 65.1 persen menjawab tidak setuju masyarakat Indonesia kebal COVID-19. Dan ada 34.9 persen yang setuju masyarakat Indonesia kebal COVID-19, dengan rata-rata 4.29 dari skala 10," kata Kunto.

    Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan sebelumnya telah memperpanjang masa PSBB hingga 22 Mei 2020. Menurut Anies, pemerintah DKI, bersama Polda Metro Jaya dan Kodam Jaya akan meningkatkan pengawasan dalam pelaksanaan perpanjangan tersebut ."Ke depan kami akan lakukan tindakan yang bersifat sanksi kepada semuanya yang masih tidak mematuhi PSBB," ujar Anies dalam konferensi pers daring di Balai Kota, Jakarta Pusat, Rabu 22 April 2020.

    Menurut Anies selama pelaksanaan PSBB periode pertama pemerintah DKI dan penegak hukum masih memberlakukan fase edukasi dan imbauan kepada warga dalam mematuhi PSBB. Karena masih banyak warga yang melanggar, berkerumun serta perusahaan-perusahaan yang masih beroperasi.

    Selama PSBB pertama sejak 10 April 2020 penyebaran Covid-19 masih terus meningkat. Tercatat pada 10 April jumlah kasus positif Corona masih di angka 1810. Namun hingga 22 April pasien positif sudah mencapai 3.399. Jumlah korban yang meninggal juga melonjak dari 156 per 10 April naik menjadi 308 per 22 April. Sedangkan korban sembuh dari 82 menjadi 291.

    ADAM PRIREZA | TAUFIQ SIDDIQ


     

     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Tarik Ulur Vaksin Nusantara Antara DPR dan BPOM

    Pada Rabu, 14 April 2020, sejumlah anggota DPR disuntik Vaksin Nusantara besutan mantan Menteri Kesehatan Terawan Agus Putranto