Yayasan Qahal Minta Maaf, Kasus Nasi Anjing Tetap Diproses Hukum

Reporter:
Editor:

Clara Maria Tjandra Dewi H.

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Nasi bungkus berlogo kepala anjing yang disebut

    Nasi bungkus berlogo kepala anjing yang disebut "Nasi Anjing" dibagikan kepada warga Warakas Tanjung Priok Jakarta Utara, Ahad, 26 April 2020. (ANTARA/HO-Polda Metro Jaya)

    TEMPO.CO, Jakarta - Kapolres Jakarta Utara Kombes Budhi Herdi Susianto menyatakan proses hukum kasus nasi anjing masih berjalan meski mediasi sudah dilakukan.

    "Proses hukum ini akan terus berjalan dan kami lanjutkan tahapannya," kata Budhi di Jakarta, Senin 27 April 2020.

    Dia mengapresiasi permohonan maaf Yayasan Qahal selaku donatur Nasi Anjing bagi warga Warakas, Tanjung Priok, Jakarta Utara. Pembagian nasi anjing itu memancing kehebohan di antara warga yang tersinggung karena menduga nasi bungkus itu berisi daging anjing. 

    Budhi mengatakan proses mediasi dan permohonan maaf ke warga itu, tidak menghentikan proses hukum yang sedang dilaksanakan. Polisi akan tetap melakukan tahapan-tahapan pemeriksaan atas laporan warga terkait pemberian Nasi Anjing tersebut.

    Sebelumnya, pemilik sekaligus pendiri Yayasan Qahal, Biantoro Setijo telah dipertemukan dengan warga RT 11 RW 12 Kelurahan Warakas, Tanjung Priok, dalam proses mediasi, Minggu 26 April 2020. 

    Yayasan Qahal merupakan donatur pembagian nasi bungkus dengan cap stempel kepala anjing tersebut. Dalam penjelasannya, nasi bungkus itu dinamai nasi anjing karena porsinya besar, tidak seperti nasi kucing.  

     


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    PTM Lahirkan Klaster Covid-19 di Sekolah, 3 Provinsi Catat Lebih dari 100 Gugus

    Kebijakan PTM mulai diterapkan sejak akhir Agustus lalu. Namun, hanya anak 12 tahun ke atas yang boleh divaksin. Padahal, PTM digelar mulai dari PAUD.