Penjualan Parsel Lebaran di Cikini Turun, Pedagang Jual Online

Reporter:
Editor:

Juli Hantoro

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Pekerja menyelesaikan pembuatan parsel Lebaran di kawasan Cikini, Jakarta, Selasa, 12 Mei 2020. TEMPO/Tony Hartawan

    Pekerja menyelesaikan pembuatan parsel Lebaran di kawasan Cikini, Jakarta, Selasa, 12 Mei 2020. TEMPO/Tony Hartawan

    TEMPO.CO, Jakarta - Para penjual parsel Lebaran di kawasan Pasar Kembang, Cikini, Jakarta Pusat mengaku mengalami penurunan omzet pada tahun ini dibandingkan dengan tahun lalu. Penurunan minat orang membeli parsel diduga karena wabah virus Corona.

    "Turun sekitar 50 persen-lah," ujar pedagang parsel yang ditemui Tempo, Yunita, pada Jumat, 22 Mei 2020.

    Menurut Yunita, penurunan paling signifikan terjadi dari jenis jumlah pembeli yang langsung datang ke lapaknya. Namun menurut dia, para pelanggan dan pembeli dari jualan online tetap banyak. Pada tahun ini, wanita 28 tahun itu mengaku juga menjual parsel di sosial media.

    "Tapi yang langganan juga jumlah pesanannya sekarang dipotong. Biasanya pesan 80 parsel, tahun ini cuma beli 25 paket," kata dia.

    Yunita sendiri mengaku sebagai penjual parsel musiman atau hanya buka saat menjelang Lebaran atau Natal. Parsel yang ia jual merupakan makanan. Harga setiap parsel beragam, mulai dari Rp 300 ribu - Rp 1,5 juta.

    Cerita serupa disampaikan oleh penjual parsel lainnya bernama Didit. Penjual parsel barang pecah belah itu mengaku omzet nya berkurang sekitar 40 persen dibandingkan dengan tahun lalu. Pria 26 tahun ini menjual parsel barang pecah belah dari harga Rp 600 ribu hingga yang paling mahal Rp 1,6 juta.

    "Tapi Alhamdulillah masih terbantu sama jualan online. Terus bos saya juga punya toko di tempat lain, jadi kita bukan pedagang musiman," kata dia.

    Sementara itu, pedagang parsel bernama Tian mengaku tidak ada penurunan omset tahun ini. Alasannya karena berkurangnya pesaing di kawasan Cikini. Menurut dia, jumlah penjual parsel tahun ini turun dibandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya.

    "Mungkin orang pada ragu-ragu untuk dagang karena ada Corona ini," kata pria 35 tahun itu.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    PTM Lahirkan Klaster Covid-19 di Sekolah, 3 Provinsi Catat Lebih dari 100 Gugus

    Kebijakan PTM mulai diterapkan sejak akhir Agustus lalu. Namun, hanya anak 12 tahun ke atas yang boleh divaksin. Padahal, PTM digelar mulai dari PAUD.