Cerita Lebaran Buruh Saat Pandemi Corona yang Didera Badai PHK

Reporter:
Editor:

Dwi Arjanto

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ilustrasi buruh pabrik yang di PHK. REUTERS/Henry Romero

    Ilustrasi buruh pabrik yang di PHK. REUTERS/Henry Romero

    TEMPO.CO, Tangerang -Momen Hari Raya Idul Fitri 1441 H atau Lebaran kali ini terasa amat berbeda, cenderung memilukan, bagi banyak kaum buruh atau pekerja.

    Setidaknya bagi Agus Budiarto, 40 tahun, mantan buruh pabrik onderdil sepeda motor di kawasan Tangerang, Banten yang merasa getir di Lebaran tahun ini.

    "Untuk pertama kalinya, anak saya tidak beli baju baru dan untuk pertama kalinya pula saya memiliki status baru, jadi pengangguran di Lebaran," kata Agus sambil tertawa getir, di Tangerang, Minggu, 24 Mei 2020.

    Awal Mei, Agus dan puluhan buruh lainnya terkena Pemutusan Hubungan Kerja disingkat PHK. Alasannya perusahaan tempatnya bekerja itu mengalami kerugian besar akibat terdampak pandemi Corona alias Covid-19.

    Padahal, ia sudah mengabdi di pabrikan asal Jepang tersebut sejak 13 tahun yang lalu. Ia pun sudah diangkat menjadi karyawan tetap. Agus tak pernah mengira, dirinya akan terkena PHK pada saat situasi sulit saat pandemi Corona ini.

    Sejak itu pula, ia lebih banyak di rumah. Usaha sampingannya, yakni berjualan sepatu di pasar kaget pun terpaksa terhenti sementara, karena pasar kaget ditiadakan selama diterapkannya Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) di Kabupaten Tangerang.

    PSBB Tangerang itu dengan alasan untuk mencegah atau menekan penyebaran Covid-19. "Ya berat sih, apalagi sekarang istri baru melahirkan anak kedua. Cuma mau bagaimana lagi, mungkin ini sudah takdir," katanya lirih.

    Dengan sisa tabungan yang dimilikinya, ia berusaha mencukupi kebutuhan hidup keluarganya. Ia berharap pandemi Corona segera berakhir, sehingga ia bisa kembali mencari nafkah. Entah itu kembali menjadi buruh pabrik, ataupun berjualan di pasar kaget.

    "Saya berharap kondisi kembali normal seperti sebelum adanya pandemi," ucap Agus.

    Lain Agus, lain lagi Nica (35). Perempuan yang berprofesi sebagai karyawan swasta tersebut, merasakan beratnya melalui bulan Ramadhan pada tahun ini.

    "Suaminya sejak satu bulan terakhir tidak lagi bekerja. Sementara perusahaan tempat saya bekerja sudah mulai goyang. Sudah banyak karyawan yang diberhentikan," kata Nica.

    Nica mengaku was-was, jika ia diberhentikan. Jika itu terjadi maka tidak ada lagi yang memiliki penghasilan tetap di rumahnya. Padahal kebutuhan hidup semakin bertambah dari hari- ke hari.

    "Apalagi bulan puasa dan Lebaran, kebutuhan semakin bertambah," ucapnya.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Jokowi Marah karena Tersulut Lambatnya Stimulus Kredit

    Presiden Joko Widodo geram karena realisasi anggaran penanganan pandemi masih minim. Jokowi marah di depan para menteri dalam sidang kabinet.