Masalah Sektor Transportasi di DKI Saat New Normal

Reporter:
Editor:

Juli Hantoro

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Penumpang menaiki bus TransJakarta di Jakarta, Jumat, 10 April 2020. ANTARA FOTO/Aprillio Akbar

    Penumpang menaiki bus TransJakarta di Jakarta, Jumat, 10 April 2020. ANTARA FOTO/Aprillio Akbar

    TEMPO.CO, Jakarta - Pengamat transportasi publik Djoko Setijowarno menyampaikan sejumlah permasalahan yang akan dihadapi di sektor transportasi saat penerapan new normal atau kenormalan baru di tengah pandemi Covid 19.

    Djoko menyebutkan permasalahan mendasar adalah kapasitas angkutan umum di Jabodetabek yang belum siap untuk menghadapi kenormalan baru, terutama dalam menerapkan physical distancing atau jarak aman saat ada penumpukan penumpang.

    "Permasalahannya adalah bagaimana kemampuan kapasitas angkutan umum massal dapat menjamin terlaksananya physical distancing terutama pada jam-jam sibuk," ujar Djoko dalam keterangan tertulisnya, Ahad, 31 Mei 2020.

    Ketua Bidang Advokasi dan Kemasyarakatan Masyarakat Transportasi Indonesia itu menyebutkan jika new normal diterjemahkan sebagai semua orang kembali beraktivitas seperti semula, masuk kerja dengan jadwal normal, maka bisa dipastikan kapasitas angkutan umum massal di Jabodetabek tidak dapat menjamin pelaksanaan physical distancing.

    Karena lanjut Djoko, akan sulit bagi pemerintah melakukan penambahan kapasitas angkutan umum massal secara signifikan pada jam-jam sibuk dengan demand yang sama pada masa sebelum pandemi.

    Djoko memisalkan penumpang KRL pada jam-jam sibuk yang tidak mungkin menambah kapasitas dengan maksimal kapasitas 35 persen dari seluruh penumpang terangkut. "50 persen saja mungkin sudah sangat berat," ujarnya.

    Menurut Djoko jika pun dialihkan ke angkutan umum massal seperti bus, mungkin bisa menjadi solusi, tapi harus dipastikan besaran tarif sesuai KRL. Selain itu waktu tempuh pasti jauh akan lebih lama daripada naik KRL.

    Djoko menambahkan, sarana dan fasilitas pendukung lainnya juga harus disiapkan, seperti kapasitas stasiun dan halte agar tidak terjadi penumpukan penumpang.

    Selain itu kata Djoko, saat new normal nantinya masyarakat yang memiliki kendaraan pribadi tentu akan menghindari transportasi publik, hal ini akan berdampak dengan kemacetan nantinya. "Kemacetan di jalan pasti akan lebih parah daripada sebelum pandemi karena mereka yang memiliki kendaraan pribadi baik sepeda motor maupun mobil akan menghindari angkutan umum massal dengan memilih kendaraan pribadi," ujarnya.

    Menurut Djoko, kernormalan yang baru mestinya mengatur aktivitas atau kegiatan publik pada masa pandemi dapat dikendalikan intensitasnya. Karena aktivitas ini tidak sama seperti pada massa sebelum pandemi. Caranya dengan menyusun jam kerja bervariasi agar tidak terjadi pergerakan orang banyak di jam-jam sibuk.

    Djoko berpendapat pada new normal tidak semuanya harus kembali berkegiatan di luar rumah seperti sebelum pandemi. "Yang masih bisa work from home ya semestinya tetep WFH atau minimal ada pengurangan kehadiran ke kantor," katanya.


     

     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    6 Rumor yang Jadi Nyata pada Kelahiran GoTo, Hasil Merger Gojek dan Tokopedia

    Dua tahun setelah kabar angin soal merger Gojek dengan Tokopedia berhembus, akhirnya penggabungan dua perusahaan itu resmi dan lantas melahirkan GoTo.