Transisi New Normal di DKI, Tempat Wisata Dibuka Bertahap

Reporter:
Editor:

Clara Maria Tjandra Dewi H.

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ilustrasi penari klub malam atau diskotek. Shutterstock

    Ilustrasi penari klub malam atau diskotek. Shutterstock

    TEMPO.CO, Jakarta - Kepala Dinas Pariwisata DKI Jakarta Cucu Ahmad Kurnia menyatakan memasuki new normal tempat wisata Jakarta tidak akan dibuka secara serentak. 

    "Nanti yang dibuka lebih dulu tempat wisata yang lebih mudah diterapkan protokol Covid-19 dan kecil risiko penularan virusnya," kata Cucu saat dihubungi, Selasa, 2 Juni 2020.

    Cucu mengatakan saat dibuka nanti seluruh tempat wisata Jakarta wajib menerapkan standar atau protokol kesehatan untuk mencegah penularan virus corona. Salah satu yang diwajibkan adalah pemeriksaan suhu dan penggunaan masker bagi pengunjung maupun karyawan.

    Selain itu, adanya penambahan tempat mencuci tangan dan pembersihan dengan disinfektan untuk membersihkan tempat pariwisata. "Kaidah sosial dan physical distancing juga akan diterapkan," ucapnya.

    Pemerintah, kata dia, masih merumuskan tempat wisata mana saja yang bisa dibuka saat masa transisi. Pembukaan sebagian tempat wisata bakal diumumkan oleh tim Gugus Tugas Covid-19 pada Kamis, 4 Juni mendatang saat fase ketiga pembatasan sosial berakhir.

    "Tempat pariwisata yang dianggap masih berisiko terjadi penularan pasti akan ditunda. Jadi bertahap kami bukanya," ujarnya.

    Menurut dia, tempat wisata yang pasti bakal terakhir dibuka pada fase New Normal adalah tempat hiburan yang berada di ruang tertutup seperti diskotek, karaoke dan lainnya. Sebab, tempat hiburan tersebut dianggap sebagai lokasi dengan kerentanan paling tinggi penularan virus. "Jadi tempat hiburan kami pastikan yang terakhir dibuka," ucap Kepada Dinas Pariwisata DKI itu.


     

     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Ivermectin: Obat Cacing yang Digadang-gadang Ampuh dalam Terapi Pasien Covid-19

    Menteri BUMN Erick Thohir menilai Ivermectin dapat menjadi obat terapi pasien Covid-19. Kepala BPOM Penny K. Lukito menyebutkan belum ada penelitian.