HUT DKI Jakarta, Ini Lima Landmark Ikonik di Ibu Kota

Reporter:
Editor:

Clara Maria Tjandra Dewi H.

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Suasana Taman Fatahillah di depan museum Sejarah Jakarta yang ditutup. Saat berlakunya  PSBB di Jakarta seluruh fasilitas umum seperti tempat wisata, tempat hiburan, taman, balai pertemuan, ruang RPTRA, gedung olah raga, museum serta pusat perbelanjaan. ANTARA/Paramayuda

    Suasana Taman Fatahillah di depan museum Sejarah Jakarta yang ditutup. Saat berlakunya PSBB di Jakarta seluruh fasilitas umum seperti tempat wisata, tempat hiburan, taman, balai pertemuan, ruang RPTRA, gedung olah raga, museum serta pusat perbelanjaan. ANTARA/Paramayuda

    TEMPO.CO, Jakarta - Pada HUT DKI Jakarta ke-493, tur virtual Atourin mengajak wisatawan mengunjungi sejumlah tempat ikonik yang menyimpan sejarah kota yangpernah bernama Jayakarta ini.  

    Berikut  beberapa tempat ikonik yang disambangi ANTARA dalam tur virtual "Landmark Ikonik Jakarta" bersama Atourin, Rabu 24 Jui 2020. Tur ini bisa menjadi inspirasi untuk mengenal Jakarta lebih jauh setelah wabah pandemi COVID-19 mereda dan orang-orang bisa bebas beraktivitas.

    1. Pelabuhan Sunda Kelapa

    Sebelum dinamakan Jakarta, kota ini bernama Sunda Kelapa karena berada di bawah kekuasaan kerajaan Sunda serta ditumbuhi banyak pohon kelapa. Nama Sunda Kelapa diganti menjadi Jayakarta setelah Fatahillah merebut kekuasaan.

    Selma Isnaini, pemandu dari Wisata Kreatif Jakarta, menyarankan wisatawan untuk datang ke pelabuhan Sunda Kelapa sebelum petang agar tidak bentrok dengan proses loading barang ke kapal.

    Selain bagus untuk tempat berfoto, wisatawan bisa mencoba menaiki kapal besar melewati jembatan bambu di pelabuhan. Banyak juga nelayan di kapal kecil yang menawarkan jasa mengantarkan turis ke kapal besar.

    2. Menara Syahbandar

    Menara yang jadi bagian Museum Bahari ini dulu berfungsi sebagai menara pantau utama yang mengontrol keluar masuknya kapal. Nama Syahbandar diambil dari istilah profesi pengawas menara.

    "Menaranya agak miring, kadang disebut menara miring," ujar Selma.

    Kemiringan menara yang dibangun pada 1839 ini disebabkan usia getaran dari kendaraan berat yang melewati jalan di sampingnya. "Setiap tiga tahun sekali, miring 0,3 derajat." 

    Dulu, orang-orang masih bisa naik hingga ke puncak menara. Namun Selma menuturkan tahun lalu bagian atasnya ditutup karena menara semakin miring. 

    Dahulu, Menara Syahbandar merupakan tempat titik 0 KM Jakarta sebelum dipindahkan ke Monas.

    3. Museum Bahari

    Museum ini dulunya dipakai oleh Belanda sebagai gudang rempah-rempah, sumber penyebab di balik alasan penjajah memperebutkan Indonesia yang memiliki banyak rempah-rempah berharga.

    Museum ini menyimpan koleksi miniatur kapal serta sejarah Indonesia pada masa pendudukan Belanda. Mengingat museum ini dulu berfungsi sebagai gudang rempah, bangunannya dilengkapi dengan banyak jendela agar sirkulasi udara lancar.

    4. Kota Tua

    Museum Sejarah Jakarta alias Museum Fatahillah adalah bangunan mencolok yang ada di Kota Tua. Bangunan yang dulu berfungsi sebagai balai kota Batavia ini menyimpan koleksi perjalanan sejarah Jakarta. Gedung ini memiliki penjara bawah tanah yang pernah ditempati oleh Pangeran Diponegoro dan Cut Nyak Dien sebelum mereka diasingkan ke kota lain.

    Lapangan di depan Museum Fatahillah jadi tempat berkumpul sekaligus tempat mempertontonkan proses eksekusi tahanan. Ketika eksekusi berlangsung, semua orang di sana mau tidak mau harus menjadi saksi mata.

    "Ada tiga kali bunyi lonceng. Bunyi pertama, orang yang mau dieksekusi dikeluarkan dari penjara. Bunyi lonceng kedua, petinggi Belanda hadir di lantai dua dan vonis dibacakan. Bunyi lonceng ketiga, proses eksekusi."

    Selma menambahkan, dulu tahanan bisa memilih sendiri proses eksekusinya, antara dipenggal atau digantung. Kebanyakan memilih untuk dipenggal, kata dia.

    "Pedang untuk memenggal sampai sekarang masih disimpan di dalam museum," ujar dia.

    5. Gedung Chandra Naya
     
    Sekilas, hanya terlihat hotel Novotel Gajah Mada di sini, tapi bila Anda lebih seksama, sebetulnya ada gedung bersejarah bernama Chandra Naya.

    Salah satu cagar budaya DKI Jakarta ini merupakan rumah milik kapiten Cina terkaya pada masanya. Candra Naya yang pernah didiami keluarga Khouw van Tamboen bisa dimasuki secara gratis, namun pengunjung tak boleh membawa kamera profesional untuk berfoto.


     

     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Satu Tahun Bersama Covid-19, Wabah yang Bermula dari Lantai Dansa

    Genap satu tahun Indonesia menghadapi pandemi Covid-19. Kasus pertama akibat virus corona, pertama kali diumumkan pada 2 Maret 2020.