Wiranto Dapat Kompensasi Rp 37 Juta karena Ditusuk Abu Rara

Reporter:
Editor:

Martha Warta Silaban

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Anggota Wantimpres Luthfi bin Yahya dan Ketua Wantimpres Wiranto dalam kunjungannya ke kantor TEMPO, Jakarta, Senin, 20 Januari 2020. TEMPO/Ijar Karim

    Anggota Wantimpres Luthfi bin Yahya dan Ketua Wantimpres Wiranto dalam kunjungannya ke kantor TEMPO, Jakarta, Senin, 20 Januari 2020. TEMPO/Ijar Karim

    TEMPO.CO, Jakarta - Majelis hakim Pengadilan Negeri Jakarta Barat mengabulkan permohonan kompensasi terhadap Wiranto, korban penusukan oleh Syahrial Alamsyah alias Abu Rara. Selain mantan Menteri Koordinator Politik Hukum dan HAM, Wiranto juga pemimpin Pesantren Mathla'ul Anwar, Fuad Syauqi berhak atas kompensasi.

    "Majelis hakim berpendapat kompensasi yang diajukan oleh jaksa penuntut umum dapat dikabulkan," ujar hakim ketua, Masrizal membacakan putusan Abu Rara di Pengadilan Negeri Jakarta Barat, Kamis, 24 Juni 2020.

    Dalam putusannya, hakim menyatakan kompensasi itu dibebankan kepada Menteri Keuangan Republik Indonesia. Wiranto berhak mendapatkan kompensasi sebesar Rp 37 juta, dan Fuad Syauqi senilai Rp 28,2 juta.

    "Hak kompensasi bagi para korban yang perhitungan dilakukan oleh LPSK," kata Masrizal.

    Dalam kasus ini, majelis hakim menjatuhkan vonis hukuman penjara selama 12 tahun terhadap Abu Rara. Vonis itu lebih ringan dua tahun dari tuntutan jaksa. Atas putusan ini, Abu Rara mengaku menerima atau tidak mengajukan banding. Sementara jaksa penuntut umum menyatakan masih pikir-pikir.

    Sidang pembacaan putusan perkara penusukan mantan Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan Wiranto oleh Syahrial Alamsyah alias Abu Rara dan Fitri Adriana di Pengadilan Negeri Jakarta Barat, Kamis, 25 Juni 2020. TEMPO/Ihsan Reliubun.

    Masrizal menyatakan, perbuatan Abu Rara sesuai dengan Pasal 15 juncto Pasal 6 Undang-undang Nomor 5 Tahun 2018 tentang Perubahan Atas Undang-undang Nomor 15 Tahun 2003 tentang penetapan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-undang Nomor 1 Tahun 2002 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Terorisme menjadi Undang-undang. Hakim menyampaikan hal-hal yang memberatkan Abu Rara dalam perkara ini adalah bahwa perbuatan terdakwa dinilai tidak mendukung pemerintah dalam upaya pemberantasan terorisme, dan dia tidak pernah menyesali perbuatannya.

    "Sementara hal yang meringankan, terdakwa tidak pernah dihukum sebelumnya," kata hakim Masrizal.

    Atas putusan ini, Abu Rara menerimanya atau tidak mengajukan banding. Sementara jaksa penuntut umum menyatakan masih pikir-pikir atas putusan hakim.

    Abu Rara menusuk Wiranto ketika politikus Partai Hanura tersebut tengah berkunjung ke ke Alun-alun Menes, Desa Purwaraja, Pandeglang, Banten pada 10 Oktober 2019. Dia menusuk Wiranto pada bagian perut dan juga menusuk dada pemimpin Pesantren Mathla'ul Anwar, Fuad Syauqi. Sedangkan sang istri, yakni Fitria Andriana menusuk punggung bagian belakang Kepala Kepolisian Sektor Menes, Komisaris Dariyanto. Dalam melakukan aksinya, pasangan suami istri ini juga mengajak anak mereka yang masih di bawa umur.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Benarkah Ada Jam Makan Yang Bikin Gemuk?

    Banyak cara untuk membuat berat badan menjadi ideal, contohnya waktu makan. Namun makan di jam yang salah bisa bikin gemuk.